Sabtu, 17 Mei 2014

Gempa Tsunami Aceh

Saudaraku.............
Hari ini adalah awal dari tahun hijrah 1 Muharam 1426
Berarti semalam adalah hari terakhir dari suatu perjalanan panjang ditahun hijrah  1425

Kita telah lalui sepanjang  354 hari dari tahun Qamariah
Banyak hal yang sudah kita alami dalam perjalanan yang panjang itu
Ada kesuksesan yang kita raih, ada juga kegagalan yang kita terima
Ada kebahagiaan yang kita peroleh, ada juga kekecewaan yang kita dapati
Ada rasa suka yang terluapkan dan ada pula rasa duka yang begitu mendalam,
Ia datang silih berganti tak mengenal waktu
Sungguh peristiwa itu tidak mungkin kita hindari
Sepanjang roh masih bersemi dibadan ini

Saudaraku……………
Dua bulan kemarin, yaitu dipenghujung akhir Desember 2004
Atau dalam bulan Dzulkaidah 1425 hijrah
Kita semua, tidak pernah bermimpi atau membayangkan
Bahwa musibah besar yang bernama : Tsunami akan kita saksikan disini
Di bumi Indonesia tercinta ini
Di ujung pulau tanah tercinta : Aceh,
Atau di kota yang namanya Serambi Mekkah
Dan di daerah pesisir  Sumatera Utara
Habis tersapu gelombang Tsunami yang datang bergulung-gulung
Ia datang begitu cepat sekali dan hanya dalam hitungam menit
Ratusan ribu manusia meninggal dunia menjadi korban
Ribuan manusia hilang terbenam dan terbawa arus laut
Ratusan manusia yang terluka kinipun masih ada yang tergeletak
Masih dalam rawatan dan pengobatan
Ribuan rumah hunian hancur luluh lantakan kecuali masjid dan sebuah mushalla
Ratusan juta nilai harta benda tak bisa  lagi diselamatkan
Habis tergilas air laut yang mengganas seketika itu
Apalagi binatang ternak dan puluhan hektar tanah harapan
Rusak dan hancur tiada lagi bersisa,
Semua merata diatas lumpur laut yang hitam
Semua hilang,
Semua hancur,
Semua sudah terendam lumpur
Semua tiada lagi berarti buat kehidupan
Semua telah menjadi kepingan-kepingan yang tiada berarti
Kita tak lagi berdaya
Dan kita memang tidak berdaya dalam menahan dahsyatnya air dan gelombang laut
Semua ini adalah cobaan TUHAN kepada kita
Agar kita menjadi sadar

Saudaraku…………
Jeritan tangis anak-anak yang kehilangan orang tua
Jeritan mengharu perempuan-perempuan yang kehilangan suami, kini mereka menjadi janda
Dan kesedihan para  suami  yang kehilangan isteri serta anaknya
Saudara kandung dan saudara sepupu tidak lagi bersama
Mereka mati dan sebagian karam tiada wujud
Nampak, semua begitu cepat sekali, ia terjadi bagaikan sebuah mimpi
Mimpi yang menjadi kenangan luka dan duka, yang akan selalu membekas begitu mendalam dihati
Kita sebagai mahluk Tuhan yang sombong dan angkuh
Sewaktu peristiwa terjadi tidak mempunyai kekuatan apa-apa
Kini hanya pasrah dan  berdo’a memohon ampun kepada-NYA
Agar bencana itu tidak lagi kembali
Kini kita harus kembali membangun sebuah kehancuran
Kita bangun dengan doa, ketabahan, kekuatan dan modal
Namun, Yang utama adalah membangun perasaan kemanusiaan

Saudaraku………..
Cobalah kita lihat sejenak kebelakang
Sebelum peristiwa Tsunami itu terjadi
Muncul gempa di Alor 38 orang meninggal
168 orang luka-luka  368 bangunan hancur
Belum reda di Alor, gempa di Nabire muncul
32 orang meninggal 146 orang terluka
Ratusan rumah hancur dan terbakar
Belum reda rasa duka kita
Helikopter TNI jatuh di Magelang
14 orang tewas seketika
Korban jiwa bertambah lagi
Orang-orang tercinta yang kehilangan keluarganya
Berduka dan menangis lagi
Belum lagi reda tangisan dimata
Belum lagi kita tuntas membangun di Aceh
Datang lagi musibah berganti, muncul gempa di Palu
Satu daerah di wilayah Indonesia Bagian timur
Puluhan rumah, kantor, dan bangunan hancur
Puluhan jiwa menjadi korban
Dan ratusan orang, bahkan ribuan orang berlari mencari tempat dataran yang tinggi
Agar  selamat, agar terlindungan dan banyak berdo’a kepada Yang Maha Kuasa
Minta selamat, karena masih ingin hidup panjang ?

Saudaraku...........
Sadarkah kita, kalau musibah itu siap datang menerpa kita ?
Sadarkah kita, kalau maut selalu menghadang kita ?
Semoga ALLAH SWT senantiasa memberi selamat pada kita
Untuk diri kita, Untuk isteri-isteri kita yang cantik dan yang sangat kita sayangi,
Untuk anak-anak kita, Untuk cucu-cucu kita,
Untuk saudara kita, bapak ibu kita, nenek kakek kita,  mertua kita, teman kita dan sahabat kita dan untuk kita semua, termasuk juga untuk musuh dan saingan kita

Saudaraku............
Marilah kita renungi sejenak peristiwa itu
Marilah kita berbicara jujur pada diri kita masing-masing
Mengapa TUHAN memberi gempa di Aceh, di Nabire dan Palu ?
Mengapa TUHAN juga  memberi gempa di India, Srilanka dan Thailand ?
Dan mengapa TUHAN tidak menjadikan gempa di Korea, di Australia atau di Pakistan ?
Tapi justru di daerah-daerah yang TUHAN pilih sendiri tempatnya !
Sadarkah kita bahwa daerah-daerah itu adalah pusat-pusat konflik kemanusiaan
Sadarkah kita bahwa daerah-daerah itu yang menjadi ujian TUHAN
Selama ini terkesan, Polisi dan TNI tidak berdaya bila beroperasi di daerah konflik itu Semua terhadang dengan istilah HAM dan demokrasi
Polisi  sebagai penegak keamanan dalam negeri,
Dan TNI sebagai penjaga teritorial NKRI
Seolah-olah tak berdaya menangkis dengungan HAM dan demokrasi
Para LSM, dan para Pejuang HAM dan demokrasi yang ingin menjadi pahlawan
Serta  mereka orang-orang yang sok mengagungkan HAM dan Demokrasi,
Yang ingin hidup sendiri dan memisahkan dari NKRI
Kali ini hanya menggigit jari,
Kali ini hanya menelan ludah kekecewaan
Karena kini,  kehendak TUHAN telah terjadi, dan benar-benar menjadi bukti
Mungkinkan ini sebuah azab ataukah sebuah peringatan bagi mereka
Atau bagi kita semua ?
Biarlah kehendak TUHAN yang menjadi bukti
Semoga TUHAN membukakan mata dan hati nurani ?

Saudaraku...........
Ditahun baru hijrah ini, Yang kini memasuki tahun ke 26 dari abad ke 15 hijrah ini
Marilah kita songsong hari-hari yang masih panjang didepan kita
Marilah kita isi hari-hari itu dengan pekerjaan-pekerjaan yang diridhoi TUHAN
Jangan kita membuat kerusakan dimuka bumi ini, Jangan kita menjadi perusuh
Apalagi pembuat onar dan pengadu domba
Kita bangun NKRI tercinta ini dengan tangan-tangan kita
Kita wujudkan Indonesia Bersatu yang lebih aman dan sejahtera
Karena harapan besar menunggu di depan sana  yang akan membawa kebahagiaan
Jangan lagi ada perselisihan paham diantara kita,
Sudah banyak korban nyawa yang tidak berguna mati sia-sia

Saudaraku..................
Kita akan berkejaran dalam waktu mencapai yang kita tuju
Adakah kawan yang akan kita bawa berpacu ?
Sekarang, sedikit teman atau kawan yang menjadi sahabat
Kawan kita memang sahabat kita, tapi juga musuh kita yang tersembunyi
Tidak semua kawan menjadi teman dan tidak semua teman menjadi sahabat
Terkadang teman seiring perjalanan bisa jadi ancaman
Terkadang pula teman sebelah kamar atau sepinggir meja menjadi lawan
Karena kedudukan, pangkat dan jabatan
Begitu juga isteri, anak dan saudara kita, terkadang menjadi ujian dan fitnah bagi kita
Padahal ia begitu dekat dengan kita, tapi, terkadang ada juga ia tega membunuh kita
Namun dengan kasih sayang ini,  kedamaian dan kebahagian itu dapat diwujudkan
Kita tebarkan salam dan senyuman buat semua orang
Kita jabat tangan-tangan disekeliling kita ini dengan hati yang damai
Semoga kita arif dalam meraih masa depan.
 

Noumea, Akhir Desember 2004

Hidup Itu Pilihan Kita

Pada saat kita terlahir ke dunia, sungguh kita dalam keadaan telanjang dan tidak memiliki apa-apa. Kita hidup sangat tergantung atas kasih sayang yang diberikan orang tua, dan perhatian orang-orang yang dekat dengan kita. Mereka do’akan kita semoga kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa, dan menjadi anak yang saleh/salehah yang berbakti kepada orang tua.

Seiring dengan perjalanan waktu, kita mulai mengenal diri kita, teman-teman, dan lingkungan hidup kita. Kita berada dalam dunia anak-anak, remaja, dan dewasa. Orang tua kita menyekolahkan kita agar menjadi anak yang pintar dan cerdas mulai PAUD sampai mencapai gelar sarjana. Pada hari-hari tertentu orang tua membawa kita ke pengajian di surau atau masjid agar kita menjadi anak yang baik dan mengenal agama yang kita anut. Kita diberi pelajaran mengenai shalat, puasa, kejujuran, keadilan, keikhlasan, bertanggungjawab, etika, moral, budi pekerti, disiplin dan berbagai jalan menuju kebaikan, serta diajarkan pula agar jangan melakukan kebohongan, kecurangan, dan apalagi sampai mengambil hak orang lain.

Setelah kita mulai bekerja dan mengenal hidup dalam lingkungan kerja, mulailah muncul berbagai keinginan yang lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Kita mulai mengenal yang namanya prestasi, dedikasi, kedudukan, mencari pasangan hidup (wanita/suami) untuk berkeluarga, dan harta kekayaan yang kemudian menjadi obsesi setiap orang.

Dalam mencapai obsesi itu, terkadang kita lupa diri untuk mencapainya. Bahkan dengan berbagai cara termasuk cara-cara yang tidak terpuji dan yang diharamkan menurut syar’i.

Perbuatan curang dan tidak terpuji itu kita lakukan berarti kita  sudah berani melanggar sumpah dan janji pada diri sendiri. Padahal sewaktu kita diberi kepercayaan pimpinan untuk menduduki suatu jabatan kita bersumpah dengan mengangkat qur’an dan dengan menyebut asma Allah, tapi kita terlena dalam korupsi menggerogoti keuangan Negara untuk memperkaya diri dengan cara melanggar hukum. Apabila perbuatan kita itu diketahui KPK akhirnya kita terpojok digiring ke RUTAN sebagai tersangka atau terdakwa KORUPSI. Tinggal di RUTAN yang kamarnya sempit bukanlah takdir, tetapi itu adalah pilihannya sendiri.

Barangkali kita harus kasihan kepada mereka yang kini tinggal di RUTAN-RUTAN yang dijaga polisi dan sipir penjara. Makannya saja di dibatasi, ruang geraknya diawasi, dan pergerakan sehari-harinya diamati padahal rumah besar lux yang dibangunnya itu jauh lebih nyaman dan mewah dibanding RUTAN yang menjadi impiannya.

 

Jangan Ada Rasa Sombong di Hatimu

Orang bijak bilang :

“Janganlah engkau memandang rendah dan meremehkan orang lain hanya karena engkau merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih beruntung,  dan mempunyai pangkat yang lebih tinggi dari orang-orang yang berada disekelilingmu.

Jika engkau miliki kelebihan-kelebihan itu, seharusnya engkau lebih tawadhu, engkau lebih peduli dengan situasi dan kondisi  yang ada disekelilingmu, engkau beri perhatian dan dukungan bagi terselenggaranya pendidikan untuk anak-anak yang terlantar dan tidak mampu, engkau bantu orang-orang miskin yang ada disekelilingmu, engkau dukung dengan hartamu kegiatan dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki akhlaq dan moral bagi anak-anak muda generasi penerus kita, engkau sponsori kegiatan-kegiatan sosial bagi kemaslahatan umum, dan engkau jadikan dirimu sebagai penggerak utama lingkungan yang peduli akan kenyamanan, kebersihan, dan kedamaian. Kecuali memang engkau tidak tinggal bersama-sama orang kebanyakan dimasyarakat lingkungan umum, karena engkau telah menjadi orang kaya, memiliki harta, dan uang yang banyak sehingga engkau memilih tinggal di lingkungan yang eklusif dan tidak mau lagi berhubungan dengan orang-orang yang tidak selevel denganmu.

Engkau pintar tapi engkau tidak pernah memberikan pencerahan dan motivasi didalam majlis ilmu yang diadakan oleh panitia masjid atau mushala yang ada disekelilingmu.

Engkau kaya tapi tidak pernah memberikan infaq atau donasi untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum atau kepentingan untuk orang banyak.

Engkau beruntung bisa menjelajahi dunia tapi tidak pernah mensyukuri keberuntunganmu dengan menyisihkan sedikit hartamu atau waktumu bagi orang-orang yang ada disekelilingmu.

Engkau mempunyai pangkat yang lebih tinggi dari orang-orang lain yang ada disekelilingmu tapi engkau sombong dan angkuh. Sikapmu arogansi dan tidak peduli dengan sesama. Engkau tidak pernah  meng-orang-kan orang-orang yang ada disekitarmu padahal mereka adalah bagian dari hidupmu.

Cobalah engkau bermuhasabah walaupun hanya sejenak. 

Saat ini memang engkau dapat tidur dengan pulas dan nikmat diatas tempat tidurmu yang lux dan sangat mahal, tapi mungkin esok, atau lusa engkau akan tidur diatas tanah yang basah dengan selimut kain kafan, dan itulah tempat tidurmu terakhir.

Saat ini engkau bisa tidur dihotel-hotel mewah berbintang yang engkau sukai, atau saat ini ruang kamar tidurmu amat luas sekali, mungkin berukuran 4 x 6 meter, atau 6 x 8 meter, dihiasi dengan ornamen-ornamen yang indah, lukisan-lukisan dinding yang lebar, dan  berlampukan kristal yang amat mahal, tapi mungkin esok, atau lusa engkau akan dapati kalau kamar tidurmu hanya berukuran 1 x 2 meter berdindingkan papan dan tidak ada penerang kecuali kegelapan.

Saat ini engkau memiliki rumah tinggal yang mahal, bertingkat, berhalaman luas, dan lux. Engkau memiliki juga kendaraan yang mahal bermilyaran seperti ferari, porch, atau babybenz, tapi mungkin esok, atau lusa kendaraan yang engkau miliki itu tiada berguna bagi dirimu, karena engkau telah mati. Maka kendaraan yang engkau akan pakai untuk mengantarmu adalah kendaraan mobil jenazah berwarna hitam atau warna putih yang semasa hidupmu sangat engkau benci.

Saat engkau senang engkau bisa mandi dikolam renang dengan ceria bersama teman-teman atau keluargamu. Engkau juga bisa mandi dipantai dengan sepuas hatimu, atau engkau mandi sendiri di badtub dirumahmu sendiri dengan air hangat atau air suam, tapi mungkin esok, atau lusa engkau tidak bisa mandi sendiri lagi secara leluasa, karena engkau telah mati. Engkau tidak mungkin bisa mandi sendiri. Karena itu engkau akan dimandikan oleh orang lain diatas tempat pemandian jenazah dengan air yang terbatas.

Saat ini engkau banyak memiliki teman, kawan dan sahabat. Apalagi engkau menduduki suatu jabatan yang sangat didambakan oleh setiap orang. Karena jabatan itulah yang membuat engkau menjadi kaya dan berharta. Engkau punya banyak uang dan engkau memiliki segalanya. Tapi mungkin esok, atau lusa, semua orang, semua teman, semua anak buah, dan semua yang engkau kenal termasuk semua harta yang engkau miliki tidak lagi bersamamu. Mereka akan meninggalkanmu karena engkau telah mati. Engkau kini seorang diri dan engkaupun tidak mampu untuk berjalan sendiri kekuburmu. Hanya teman-teman yang setia padamu merekalah yang akan mengusung jenazahmu sampai kekuburmu.

Saat ini engkau banyak memiliki teman, kawan dan sahabat. Engkau punya anak buah dan staf. Engkau punya kekasih gelap atau teman-teman artis yang cantik-cantik. Engkau juga memiliki keluarga dan saudara-saudara yang dekat denganmu, tapi mungkin esok, atau lusa, engkau tidak memiliki siapa-siapa, engkau hanya seorang diri menghadapi Ilahi Rabby, dan engkau akan ditanya oleh malaikat siapa tuhanmu? siapa nabimu?, apa agamamu? apa kiblatmu? dan apa imanmu? Kalau engkau tidak bisa menjawab, teman-teman dan orang-orang yang dekat denganmu tidak mungkin dapat membantumu sekalipun dengan e-mail, fesbuk, twitter, tablet atau dengan blackberry, karena duniamu telah berbeda dengan dunia nyata.

Saat ini istrimu/suamimu, anak-anakmu, cucu-cucumu atau saudara-saudaramu masih mau tidur bersama, bercengkrama denganmu, dan bercakap-cakap denganmu. Tapi mungkin esok, atau lusa, mereka tidak mau lagi tidur bersamamu, bahkan istri/suami tercinta yang telah hidup bersamamu, mendampingi dirimu bertahun-tahun, tidak mau lagi menemanimu. Karena engkau telah mati dan engkau akan ditinggal untuk tidur sendiri.

Saat ini engkau sehat, tubuhmu gempal, padat dan berisi. Engkau gagah, dan wajahmu tampan/cantik menawan. Rambutmu engkau pelihara setiap waktu. Kulitmu engkau jaga setiap saat dengan mandi rempah, susu dan lulur. Tapi mungkin esok, atau lusa, semua itu tidak akan berarti bagimu. Bila engkau mati, tubuhmu akan membusuk, wajahmu akan menjadi tengkorak, dan tulang-tulangmu akan berserakah.

Karena itu,  mulai hari ini janganlah ada rasa sombong dihatimu, janganlah ada sifat riya bersamamu, janganlah suka merendahkan orang lain yang ada disekelilingmu, janganlah suka memfitnah dan membuka aib orang,  janganlah merasa dirimu yang paling suci atau paling hebat, janganlah pelit dan kikir untuk berbuat kebaikan, bantulah dengan hartamu perbuatan baik seperti dakwah- pendidikan dan kegiatan-kegiatan untuk kemaslahatan umum, tebarkan salam dan senyum kepada semua orang, pereratlah silaturakhmi dan jauhi ghibah, lakukan perintah Allah dan jauhi larangan-larangannya, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu, perbanyaklah shalawat dan jalankan sunnah rasul, shalatkan dirimu sebelum dishalatkan oleh orang lain, berbuat baiklah kepada semua orang terutama kepada ibu bapakmu, Insya Allah..Allah ridha dengan perbuatanmu….”.

 
Referensi : diambil dari berbagai sumber

 

 

Renungkan Sebelum Menyesal

Orang bijak bilang :

“Menjadi orang baik, kaya, dan terhormat adalah impian bagi setiap orang. Menjadi pejabat, punya kekuasaan, dan punya posisi penting di masyarakat adalah dambaan setiap orang. Menjadi orang kaya, banyak uang, banyak harta, dan hidup enak adalah harapan semua orang. Menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai swasta, menjadi pejabat Negara, menjadi pejabat daerah, menjadi diplomat, menjadi polisi, menjadi pembela Negara, menjadi pelaut, menjadi hakim, menjadi pengacara, menjadi jaksa, menjadi dokter, menjadi dosen, menjadi guru, menjadi ustadz, menjadi professional, menjadi wirausaha, menjadi pedagang, dan atau tidak menjadi apa-apa adalah pilihan setiap orang.

Pilihan itu tersadar setelah kita menyadari bahwa kita ini memerlukan sesuatu untuk menopang hidup kita ditengah-tengah aneka-ragaman warna kehidupan. Semua pilihan itu bukanlah takdir, tetapi suatu usaha dari kita yang kita upayakan sambil selalu bermunajat kepada Allah, selalu memohon kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi Rejeki, dan Yang Maha Segala-galanya, apakah pilihan yang kita lakukan itu sudah tepat dan benar, serta akan menjadi jalur rejeki yang memberikan manfaat bagi kehidupan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi keluarga, isteri/suami, anak-anak dan cucu-cucu, serta lingkungan kita semua.

Tidak ada seorangpun yang pada waktu kecilnya bercita-cita untuk menjadi maling, penjambret, perampok, penodong, penipu, tukang jegal, tukang palak, tukang kepruk, penadah, penjual obat-obat terlarang, dan atau menjadi preman.

Tidak ada seorangpun yang bercita-cita menjadi pembohong, penjudi, pemalsu, pemerkosa, pembunuh, atau menjadi koruptor.

Tidak ada seorangpun yang bercita-cita untuk menjadi pelacur, menjadi prostitusi, menjadi gigolo atau menjadi mucikari.

Semua orang yang mempunyai profesi seperti ini mengharapkan agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang baik,  berhati mulia, menjadi orang pintar dan cerdas, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara.

Hanya keadaanlah yang menyebabkan seseorang  bisa berubah sikapnya, berubah perilakunya dan juga berubah profesinya. Dari orang-orang yang dulunya baik, santun, murah hati, penuh toleransi, penolong, dan selalu berbuat kebaikan berubah menjadi orang-orang apatis, tidak peduli, tidak toleransi, tidak menghormati orang lain, pelanggar ham, tak bermoral, tak berahlaq, dan tak tahu aturan.

Apabila ia dalam menjalankan profesinya tertangkap basah di masyarakat, ketangkap polisi atau  KPK resikonya adalah :

-     malu besar dan beraib jika ia kedapatan sedang aksi melakukan senggama bebas bukan dengan suami/istrinya sendiri. Apalagi diketahui jika ia melakukan senggama dengan sekretarisnya, isteri/suami anak buahnya atau atasannya, isteri/suami teman, sahabat atau tetangganya, bahkan dengan anak sekolah yang masih ingusan.

-     babakbelur dipukuli  masa jika ia kedapatan sedang beraksi menjadi maling, rampok, penjambret, penodong, pemeras, penipu, atau pembohong.

-     menjadi berita besar jika ia sebagai penjudi kelas kakap, pemakai narkoba, penjaja sek, penadah barang haram,  atau sebagai koruptor.

Apabila ia ketangkap masa, polisi atau KPK, maka lembaga pengadilan dan  ruang penjaralah yang akan berbicara. Setelah keluar dari tahanan  akankah ia berubah menjadi baik kembali, ataukah ia akan lebih profesional lagi dalam profesinya. Jika ia kembali menjadi orang baik adakah lingkungan ia tinggal akan menerimanya.

Oleh karenanya, janganlah karena hidup miskin,  tidak punya uang, tidak bisa beli hape baru, tidak punya arloji bagus, tidak punya gelang, tidak bisa bergaya didepan pacar, tidak bisa untuk berfoya-foya,  tidak bisa beli minuman, dan tidak bisa tercapai apa yang diinginkan, tidak punya baju bagus, tidak punya tas bagus, tidak punya motor, tidak punya mobil, tidak punya rumah bagus, tidak punya deposito, sehingga mengambil jalan pintas menjadi maling, penjambret, perampok, penodong, penipu, pelacur, penadah, pemalak, preman, penjaja sek, pemuas syahwat, penjual barang-barang telarang, narkoba, ekstasi, shabu-shabu dan menjadi koruptor sebagai profesinya.

Padahal Allah SWT telah memberi jalan bagi kita semua dan tertulis di al qur’an surat An Naba ayat 11 “Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan kehidupan (bekerja). Dalam surat Al A’raf ayat 10 Kami telah menjadikan untukmu semua didalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja), Tetapi sedikit sekali diantaramu yang bersyukur”. Juga dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.

Demikian pula dengan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi : “Pekerjaan terbaik adalah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli itu baik”. (HR. Ahmad, Baihaqi dll). “Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seseorang pekerja apabila ia berbuat sebaik-baiknya (propesional). (HR. Ahmad). Dan “…kalau ada seeorang keluar dari rumahnya untuk bekerja guna membiaya anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha Fisabilillah. Jikalau ia bekerja untuk dirirnya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun Fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja untuk pamer atau untuk bermegah-megahan, maka itulah Fisabili Syaithan atau karena mengikutu jalan Syaithan”. (HR. Thabrani)

Sebelum terlanjur pindah profesi, renungkanlah akan segala resiko yang akan dihadapinya kelak. Pengadilan dunia penuh sandiwara tapi pengadilan akherat kita tidak bisa memungkirinya”.

 

Z u h u d

Orang bijak bilang :

“Orang yang zuhud ialah orang yang apabila dia berada di waktu pagi hari dia berkata, "Aku khawatir aku tidak bisa menjumpai waktu sore hari". Begitu pula bila dia berada di waktu malam hari dia berkata, “Aku khawatir tidak bisa menjumpai waktu pagi hari". Maka dia segera memanfaatkan waktunya untuk beramal dan beribadah sebaik-baiknya”.

Aku Masih Sombong

Ya Allah…
Aku merasa terlalu sombong dihadapan teman-temanku
Karena mereka sulit sekali menerima keadaanku
Mereka tidak pernah mau mengerti perasaanku
Mereka tidak pernah mau tahu jalan pikiranku
Padahal apa yang aku tempuh adalah baik buat kepentingan bersama

Teman-temanku banyak mencercaku karena mereka tidak sepaham denganku
Aku mencoba menyelaraskannya dengan pikiran mereka
Tapi tidak bisa karena jalan pikiranku berada diatas mereka
Mereka mesti mengikuti aku karena aku ingin memberi mereka pencerahan
Aku ingin mereka mengerti seperti aku
Aku ingin mereka sepintar dan secerdas aku
Karena aku tidak ingin mereka bodoh
Sungguh aku hanya ingin mengajak mereka lebih dari aku

Ya Allah…
Kenapa aku masih saja sombong padahal aku telah berusaha meredam rasa sombong itu
Aku telah memendam rasa sombong ini dengan semaksimal mungkin
Aku tidak ingin sombong karena ini bukan hak-ku
Aku tidak ingin untuk menonjolkan diri
Aku hanya ingin mereka mengerti
Agar tidak menjadi pembicaraan dibelakang hari
Agar tidak menjadi fitnah dan rasa kecewa dihati
Tapi mereka susah untuk mau mengerti sehingga timbullah kesombongaku yang aku pendam
Ya Allah ampunilah aku atas kesombonganku

Aku bukanlah orang pintar tapi aku orang yang mau belajar
Aku bukanlah orang bodoh yang bisa dibohongi atau orang yang selalu tunduk pada pemikiran mereka
Tapi hati ini selalu menolak karena pendapatku ditolak
Aku merasa rasioku lebih nalar dari mereka
Itulah kenapa aku selalu bilang belajarlah pada temanku
Pada sahabatku agar kau pintar dan cerdas dari aku
Kau belajarlah dan suka datanglah ke majlis ilmu
Kau akan memiliki pengetahuan walaupun tidak sama denganku
Jangan turuti hawanafsumu hanya berargumentasi dengan pemikiran yang dangkal

Ya Allah…
Janganlah aku dijadikan orang yang sombong
Janganlah aku dijadikan orang yang suka pamer akan keberhasilanku
Janganlah aku dijadikan orang yang suka riya dalam pekerjaanku

Ya allah aku takut menjadi orang yang sombong karena itu bukan hak-ku
Ya allah ampunilah aku ya allah…

 

Memanfaatkan Waktu Yang Tersisa

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat  memajukannya”. (QS 7:34)

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran”. (QS Al Ashr : 1-3)
 
Memanfaatkan Waktu Yang Tersisa

Aku bukanlah siapa-siapa. Tapi aku ada diantara kalian. Aku tidak bisa lagi berbuat sesuatu atau menolong seseorang karena ketiadaanku dalam uang dan harta. Tidak seperti dulu waktu aku masih berjaya dan ada kuasa. Pada waktu aku masih punya lembaran kertas warna hijau bergambar George Washington atau warna merah bergambar Sukarno atau kertas warna biru bergambar Suharto. Tapi aku masih bersyukur ada kesempatan berbuat kebaikan walaupun aku dalam kesempitan.

Aku sekarang bukanlah orang kaya seperti mereka yang bisa pergi kemana saja. Sekarang ini ruang gerak-ku sangat terbatas. Aku tidak bisa lagi pergi ke tempat-tempat hiburan atau pergi liburan. Aku sudah tidak bisa lagi pergi ke mall atau plaza seperti dulu. Apalagi ke foodcourt, ke kafe, ke restoran atau hotel. Karena aku memang sudah menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Harta kekayaanku sebidang tanah sudah aku jual untuk makan dan bayar hutang. Sedangkan mobilku hanya tinggal kenangan. Sehingga kemana aku pergi aku hanya naik bus umum, angkot, ojek, berjalan kaki atau sesekali menggunakan taksi.

Kalau aku ada undangan teman atau seseorang yang aku kenal. Apakah itu di gedung pertemuan atau di hotel aku tetap datang dengan taksi. Aku merasa bangga karena aku dapat duduk dengan nyaman dan tenang karena disupiri oleh supir yang profesional. Walaupun aku terkadang bingung saat aku hendak pulang, karena aku harus mencari taksi diluar gedung pertemuan. Jika kebetulan bertemu kawan, Ia pasti menyapaku “mas, mobil-mu diparkir di sebelah mana?”. Terkadang aku terlampau jujur mengatakan aku bilang “aku mau cari taksi” dan temanku yang baik itu pasti berucap “mas ikut aku saja ke luar”. Tapi aku harus menolaknya karena aku tidak ingin menyusahkan orang lain.

Mobil adalah alat transportasi dan prestige, dan aku tidak merasa rendah hati walau aku tidak memiliki. Aku tidak merasa iri kepada teman yang memiliki mobil karena dulupun aku pernah mempunyai mobil. Aku lihat masih banyak orang-orang disekitarku yang tidak mempunyai kendaraan seperti aku. Aku terkadang masih berbangga karena aku masih dapat menggunakan taksi kemana aku pergi. Ada bermacam merk mobil yang aku suka dan aneka warnanya. Ada warna putih, biru, abu-abu, kuning atau warna cream. Aku bilang, Supirku memparkirnya dibanyak tempat dan bila aku perlu cukup kuangkat telpon dan memanggil mereka setiap saat. Belum lagi mobilku yang besar berwarna merah bertuliskan 69 atau 44. Aku tinggal naik dan tidur disepanjang perjalanan.

Pendidikanku tidak tuntas dan tidak selesai karena aku tidak bisa membiayai pendidikan yang aku tempuh. Padahal aku ingin sekali menjadi seorang Doktor ahli manajemen, es de em, komunikasi, atau politik. Suatu titel tertinggi dibidang pendidikan agar aku mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas dalam bidang sosial. Atau dalam kehidupan dimasyarakat, agar aku dapat dijadikan tempat untuk bertanya untuk kemaslahatan umum. Namun aku harus cukup puas dengan strata kelas yang aku miliki karena masyarakat disekelilingku tidak ada yang bertitel doktor. Dengan pendidikanku yang Strata Satu itu aku cukup puas karena memang aku raih gelar itu dengan skripsi tulisanku sendiri. Aku lulus dengan gemilang walau aku dibantai dalam sidang ujian oleh pembimbingku sendiri. Dengan ijazah itulah aku bisa berdiri dan aku bisa melihat luar negeri. Juga daerah-daerah propinsi yang sebelum itu aku tidak pernah mimpi untuk mengunjungi.

Di instansi perkantoran tempat aku bekerja, aku bukanlah seorang pejabat tapi hanya sebagai tenaga staf dan tukang photocopy. Bahkan aku pernah sebagai tukang kliping berita dan tukang stensil. Tapi aku jalani dengan hati nurani karena itulah perjalanan karirku. Sesekali pimpinanku memberi tugas sebagai kurir pembawa surat, kadang-kadang diminta untuk mengonsep surat dan mengetik laporan. Pekerjaanku hanya sebatas perintah yang diinstruksikan oleh seorang kepala atau pimpinan. Walaupun kadang-kadang aku ada inisiatif, tapi semua berpulang kepada pimpinan. Aku hanya seorang pelaksana. Tidak lebih.

Aku tidak iri dengan mereka yang punya jabatan tinggi dan sering pergi ke luar negeri. Karena dahulupun aku pernah ditugaskan pimpinan keluar negeri, dan aku dapat pergi bersama dengan isteri dan anak-anakku. Jabatanku di perwakilan hanyalah menjalankan perintah. Mendampingi pejabat dan membawa koper. Mengantar pejabat ke hotel dan mendampingi penugasannya. Aku tidak lebih dari seorang kuli tapi pakai jas dan dasi. Aku tidak malu dengan teman-teman lain dengan status profesiku ini karena paspor-ku berwarna hitam, dan aku memang lulusan sekolah dinas luar negeri di departemen luar negeri.

Penugasanku ke luar negeri menjadi kebanggaanku. Sehingga anak-anakku mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang luar negeri. Tidak hanya sekedar melihat di televisi. Aku bangga anak-anaku bisa berceritera tentang kehidupan di luar negeri karena ia sekolah dengan bukan bangsanya sendiri. Sekarang semua itu tinggal kenangan dan sekarang aku belajar untuk menerima keadaan yang aku miliki saat ini.

Aku menyadari posisiku yang hanya sebagai pegawai kecil. Dan aku bukan siapa-siapa buat mereka apalagi buat negara. Kiprahku tidak kentara dibandingkan teman-temunku yang berprestasi hebat. Aku tidaklah punya nama karena memang aku hanya ada dibelakang meja dan sebagai penyerta. Sekarang aku diluar mereka dan bersama teman-teman lain yang dianggap tidak berguna. Sekalipun aku ada diantara mereka, namun mereka tidak peduli karena masing-masing orang mengejar obsesinya sendiri. Mereka orang-orang yang masih aktif dan punya peran dalam aktivitas Negara. Sedangkan aku sudah pensiunan dan tidak lagi mempunyai peran. Aku sudah menjadi orang yang terpinggirkan dari lingkaran birokrasi. Sehingga bila bertemu kawan yang masih aktif jangankan bertegur sapa, bertemu saja mereka membuang muka. Mereka tidak mau lagi berkataria. Katanya, aku sudah tidak selevel lagi dengan mereka dan dia. Bahkan ada yang sengaja menghindar karena takut kalau diminta uang.

Mereka begitu sibuk. Kalau mereka bekerja tidak pernah lepas berkemeja dan berdasi. Bila ada acara-acara dinas merekapun memakai jas dan sangat dihormati. Mereka bergaul dengan hanya sesama kolega dan seprofesi saja. Dirumah kediamannya, supir dan satpam siap mengabdi untuk menjagai mereka. Ada aturan yang diterapkan tidak boleh sembarang orang yang bukan selevel untuk bisa ketemu, sekalipun aku pernah mengenalnya dan bagian dari mereka.

Aku bukanlah siapa-siapa. Karena aku tidak pernah terlihat dalam kegiatan besar dimasyarakat. Aku hanya seorang insan yang hanya mengabdi bagi kemaslahatan umum yang menginginkan hidup di lingkungan kehidupan yang nyaman, aman dan Islami. Aku menjalani hari-hariku bagi kebahagiaan orang lain dan aku tidak ingin punya nama atau berpamer riya dalam berkarya. Aku terkadang merasa malu karena disekelilingku banyak orang yang lebih pintar dan cerdas dariku. Ia bisa berdakwah, bisa berdo’a, bisa memberi nasehat, dan bisa menjadi motivator.

Sekarang ini aku merasa terpanggil. Aku harus belajar dan setidaknya sama dengan mereka atau selevel dibawahnya. Tapi aku tidak peduli atau malu hati untuk belajar mengaji bersama-sama orang yang mempunyai hati. Kupikir aku masih diberi kesempatan untuk menimba ilmu agama yang tak pernah aku pelajari sewaktu aku masih aktif dulu. Sekalipun dulu aku pernah belajar mengaji, tapi ternyata aku miskin dalam ilmu agama, apalagi dalam mengaji dan mengkaji ayat-ayat Al Qur’an.

Sungguh aku malu dengan diriku sendiri, padahal aku pernah pergi keluar negeri ke Amerika Serikat, ke Las Vegas, ke Arizona, ke Washington dc, ke Singapore, ke Malaysia, ke Bangkok, ke Manila, ke Seoul, ke China dan bahkan pergi ke propinsi-propinsi di wilayah Indonesia. Tapi aku miskin ilmu agama. Aku miskin hapalan do’a. Aku miskin bacaan Al Qur’an. Aku tidak mengenal apa yang namanya ilmu mahraj, tajwid, nahwu, sharaf, dan lainnya. Aku malu belum sepenuhnya mengerti tentang rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan. Betapa bodohnya aku yang ketinggalan ilmu agama dengan mereka yang telah mengerti lebih dahulu tentang agama yang dianutnya. Tapi, Aku bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan untuk belajar. Aku bersyukur masih dikasih kesehatan badan dan dikuatkan kakiku untuk berjalan. Sehingga setiap waktu aku dapat pergi ketempat majlis ilmu sambil membawa tas kecil dipundak yang berisi kertas-kertas catatan tafsir qur’an. Aku bangga dalam usiaku yang dianggap sebagai orang lansia tapi aku masih tetap belajar. Komunitasku saat ini adalah orang-orang tua yang masih punya semangat belajar. Aku bertekad memanfaatkan waktu yang tersisa dalam mencari sesuatu yang terbaik untuk kehidupanku dimasa depan.

Dulu kantor pusatku hanya ada di jalan pejambon. Kini kantorku adalah masjid dan mushala. Tempat rapatku adalah majlis ilmu dan tempat-tempat orang yang suka memberi ceramah. Komunitasku adalah orang-orang tua yang telah renta dan papa. Yang jalannya saja sudah susah. Yang rambutnya sudah putih-putih. Dan kalau bicara agak sedikit keras karena pendengarannya sudah kurang peka.

Aku bersyukur duduk dalam organisasi sosial yang setiap waktu bekerja untuk orang-orang yang terkena musibah. Aku dan teman-temanku yang setia selalu bekerja bersama. Kalau ada musibah kendaraanku ambulan pengangkut jenazah. Dan tugasku mengantar mereka ketempat peristirahatan yang terakhir untuk selama-lamanya.

Ya Allah, berilah kesehatan kepadaku untuk aku dapat mengabdi pada pekerjaan sosial ini. Aku sama sekali tidak mengharapkan sesuatu. Aku tidak mencari nama atas pekerjaaku ini. Aku hanya mencari ridha-MU dalam memanfaatkan sisa umurku ini untuk amalan dan kebaikan bagi banyak orang. Ya Allah berikanlah aku kesempatan untuk aku mengamalkan ilmuku agar dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ampunilah aku ya Allah jika aku salah atau khilaf dalam dalam aku beramal.