Jumat, 18 April 2014

Ber-Investasi Kebaikan Kepada Orang lain


Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan : Mumpung kita masih muda carilah uang sebanyak-banyaknya dan gunakanlah uang itu untuk keperluan selama hidup kita. Jangan pikirkan kehidupan orang lain nanti kita akan menjadi orang yang merugi. 

Raihlah kebahagiaan dengan uang, jabatan dan harta, kau akan bahagia.  

Lupakan orang-orang miskin yang suka mengemis kepada-mu, atau suka meminta-minta bantuan-mu. Lupakan yayasan yatim piatu dan dhuafa,  lupakan lembaga sosial, dan lembaga-lembaga lainnya yang suka mengatasnamakan pembangunan masjid, pembangunan madrasah, pembangunan sekolah, bantuan pendidikan, santunan orang-orang jompo dan kepanitia-kepanitiaan yang suka datang kepadamu. Karena semua itu akan mengurangi jumlah uang, harta dan kekayaan yang kita miliki.  

Untuk apa membantu mereka kalau kita tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari apa yang kita investasikan. Untuk apa kita berikan bantuan kepada mereka kalau akhirnya uang yang kita miliki akan berkurang.

Karena itu hendaknyalah kita harus menilainya dengan teliti dan seksama, serta menghitung-hitung  atas keuntungan dan kerugian yang kita lakukan dengan uang dan harta yang kita miliki kalau kita ingin ber-investasi kepada orang lain. 

Gambaran diatas adalah perhitungan bisnis kita. Itu menurut pandangan dan perhitungan kita, sehingga kita enggan untuk meng-infaq-an sebagian rejeki atau harta yang kita miliki untuk kebaikan di jalan Allah.
Padahal ada hadist nabi yang menyebutkan bahwa “Jika seseorang meninggal dunia, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga perkara;  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orangtuannya”. ( HR. Muslim). Karena ke-egois-an kita, kesombongan kita, dan rasa keangkuhan kita terkadang kita tidak pernah memperhatikan arti hadist ini. Padahal hadist ini mestinya menjadi salah satu acuan dan pegangan bagi banyak orang dalam berinteraksi didalam pergaulan masyarakat. 

Kalau kebetulan kita berada di mall, di plaza, ditempat wisata, dihotel, di cottage atau ditempat-tempat hiburan, maka yang terbayang dipikiran kita adalah bagaimana agar semua orang dapat hidup seperti kita, dapat menikmati keindahan dunia dan gemerlapnya dunia. Betapa Indahnya malam di Las Vegas, betapa menariknya permainan Rodeo di Houston, betapa indahnya pemandangan alam Arizona, hutan finus di Yellow Stone, pemandangan gedung di Darling Habour Sydney, bersihnya pantai laut di Hawaii dan Guam, bersihnya kota Singapore. Betapa kita tidak melihat orang-orang miskin yang kesusahan di kota itu. Semua orang nampaknya kaya dan memiliki segalanya. Status yang kita sandang tentu sama dengan mereka “life and enjoy”. 

Kita akan terpanggil dan mengucapkan syukur kepada ilahy rabby kalau kita masuk keperkampungan muslim di India. Betapa trenyuhnya hati kita. Disepanjang jalan masuk ke daerah / pasar itu, nampak di kiri kanan jalan begitu banyaknya orang-orang yang susah, miskin yang minta perhatian kita. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mensyukuri nikmat Allah bahwasanya kita lebih baik dari mereka.  

Ditempat kita tinggalpun tidak kurang banyaknya orang-orang miskin dan dhuafa yang minta perhatian kita. Mereka hidup dalam kemiskinan dan kepapaan. Tidak bisa makan layaknya kita dan tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya karena ketidak mampuan untuk membayar sekolahnya. Disana di jalan-jalan raya bintaro, di sepanjang jalan jatinegara, di daerah-daerah kumuh sepanjang rel kereta api di senen, di jati Negara, di rajawali dan lain-lain tempat masih banyak yang tidur dengan beralasan koran dan berselimutkan langit. Kalau hujan mereka menangis karena tiada tempat berteduh atau tempat berlindung. Kitapun tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak orang-orang yang susah disekitar lingkungan tempat tinggal kita walaupun mereka telah berusaha dengan bekerja keras  siang dan malam dalam meraih uang dan kebahagiaan, namun tidak atau belum tercapaikan. Padahal menurutnya ia telah berdo’a setiap malam diwaktu tahajud atau berdo’a diwaktu dhuha bahkan di setiap shalat. Tapi uang atau rejeki yang didambakan itu belum juga mendekat kepadanya / kita, apakah ada kesalahan bagi kita selama ini sehingga begitu susahnya mencari uang untuk kebagaiaan hidup kita bagi isteri dan anak-anak kita.

Orang-orang yang telah berhasil dan kaya mestinya harus selalu ingat bahwa harta kekayaan yang kita cari siang dan malam dengan membanting tulang, menyita waktu, tenaga dan pikiran bahkan sampai meninggalkan shalat, ternyata itu tidak mutlak kita miliki.  Semua itu hanyalah titipan Allah semata, termasuk diri kita ini. Jangan sampai kita terlena dan lupa untuk menyisihkan sebagian dari harta yang kita miliki karena kekayaan yang kita punyai itu ada sebagian kecil milik orang-orang miskin, anak-anak yatim piatu dan orang-orang dhuafa. Apabila kita menyadarinya dan menyisihkan sebagian dari rejeki yang kita miliki maka itu akan menjadi ladang amal sebagai
ibadah yang pahalanya akan mengalir terus-menerus sekalipun kita telah mati.

Kita tidak selamanya akan sehat, mungkin saja besok kita sakit, maka uang dan harta kekayaan yang kita cari itu akhirnya hanya untuk berobat, untuk biaya rumah sakit,  dan hanya untuk memelihara kesehatan kita saja.

Mumpung kita masih diberi sehat, dan masih diberi rejeki,  janganlah lupa kita berderma atau bersedekah berapapun yang kita kehendaki, asalkan ikhlas. Insya Allah infaqmu itu akan berbuah sebagai amal kebaikan yang di investasikan untuk hari kemudian bagi orang-orang yang memerlukan bantuan kita. Kita akan beroleh ganjaran pahala dan bertambahnya rejeki atas investasi yang kita berikan bagi sesama.”
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran (3):92).


 
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran (3):92).


Kamis, 17 April 2014

Ber-Investasi Pahala

Orang bodoh suka menganggap enteng suatu kegiatan yang berhubungan dengan amal kebaikan. Padahal  semua kegiatan dan aktivitas yang baik dan memberikan manfaat bagi semua kehidupan adalah ibadah. Mendo’akan orang adalah ibadah. Memberi senyum kepada orang yang kita kenal atau belum kita kenal adalah ibadah. Membuang duri ketepi jalan agar tidak mencelakakan orang lain adalah  ibadah. Memberi tempat duduk didalam bus bagi ibu hamil, atau bagi ibu-ibu yang membawa anak kecil adalah ibadah. Menyeberangkan orang lansia atau orang tua renta yang akan keseberang jalan adalah ibadah. Apalagi kalau kita dapat menolong orang lain dari kesedihan, kesusahan, dan penderitaan, itu adalah ibadah yang terpuji, karena telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Beribadah adalah sebuah nama kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan apa saja yang dicintai dan diridlai Allah, baik berupa perkataan atau perbuatan, yang dzahir maupun yang batin, dan merupakan ladang amal sebagai investasi pahala yang berguna bagi kita dimasa depan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari sepanjang kita berbuat baik kepada tetangga, kepada orang-orang lain yang sekalipun belum kita kenal, atau kepada siapa saja asal disertai dengan ke-ikhlas-an akan menjadi investasi pahala buat kita.

Kita tidak perlu menonjol-nonjolkan diri bahwa kita telah melakukan kegiatan yang baik kepada orang lain atau kepada banyak orang. Apalagi kita sengaja membeli orang untuk menjadi corong yang menyebarkan berita kebaikan yang kita perbuat itu agar diketahui oleh banyak orang. Cukuplah mereka orang-orang yang tahu saja yang akan menjadi saksi dalam kegiatan yang kita perbuat itu untuk kemaslahatan umum yang telah kita lakukan. Sehingga dengan demikian, apa yang kita perbuat bagi kemaslatan umum itu menjadi kebahagiaan tersendiri buat kita.

 

Jangan Terlena Dalam Mencari Kehidupan


Apa yang sudah kita miliki mungkin itu sudah menjadi rejeki kita. Atau apa yang telah kita putuskan untuk mendampingi hidup kita mungkin itu sudah menjadi jodoh kita. Terkadang kita kurang menyadari akan sesuatu apa yang tidak tercapai, mungkin saja itu bukan menjadi hak kita atau rejeki kita. Kita tidak perlu kecewa, galau, atau kita tangisi.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam hidup ini tidak ada satu hukum yang mengharuskan hidup seseorang itu harus sukses atau harus bahagia. Namun Allah telah menetapkan bahwa jangan lupakan kehidupan dunia dalam mencari kebahagiaan akherat. Nabi kitapun mengajarkan kepada kita agar kita selalu berdo’a untuk kebahagian dunia dan kebahagiaan akherat.

Tidak semua orang menyadari bahwa dibalik kehidupan dunia akan ada kehidupan akherat. Sehingga apapun caranya, bagaimanapun caranya, orang hanya berupaya mengejar kehidupan dunia walaupun dengan cara yang tidak halal sekalipun. Bahkan kalau perlu harus membunuh saingannya demi mencapai obsesinya. Namun hal ini sangat bertentangan dengan fitrah kehidupan manusia dan akan melanggar hak azasi manusia. Sementara itu ancaman Allah SWT sangat berat sekali yaitu neraka jahanam bila kita sampai membunuh orang lain atau seseorang, apalagi itu yang saingan kita.

Allah berfirman dalam surat Al-Qaşaş ayat 77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dalam surat Al Hadid ayat 20 Allah SWT  menegaskan : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

 

Ayat-ayat di atas mengingatkan kepada kita bahwa kebahagiaan itu ada

2 (dua) yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akherat yang kedua-duanya harus kita kejar dalam posisi yang seimbang. Kehidupan dunia itu sifatnya hanya sementara dan tidak abadi. Yang kita kejar dalam menggapai kebahagian dunia itu hanyalah wanita yang cantik, anak-anak, harta kekayaan berupa emas, perak, berlian, platinum, rumah mewah yang besar dan luas, sawah, ladang, kebun, hutan, kendaraan yang mahal, uang, deposito, jabatan yang tinggi, penghormatan, pengagungan dan pujian. Selalu ingin sehat dan berumur panjang, tidak pernah sakit atau kekurangan, serta hidup dalam lingkungan yang glamor.

Sedangkan untuk kehidupan akherat banyak orang menganggap bahwa kehidupan akherat itu masih absurd dan hanya angan-angan belaka. Ini adalah pendapat orang-orang yang tidak mempercayai adanya kehidupan akherat sehingga hidupnya hanya untuk kehidupan dunia saja. Ia bekerja keras, membanting tulang siang dan malam, tidak mengenal waktu dan istirahat, bahkan berani untuk meninggalkan shalat yang merupakan kewajibannya kepada Tuhannya ditinggalkan, dan tujuan hidupnya hanyalah untuk mengejar kebahagiaan kehidupan dunia. Orang-orang yang melakukan kehidupan seperti ini adalah termasuk orang-orang yang merugi. Padahal kehidupan akherat itu tidak pernah mengenal batas waktu. Janganlah kita terpedaya atas bujukan para dai, kyai, ulama, dan para ustadz yang mengejar kehidupan dunia saja atau kehidupan akherat saja. Tapi hendaklah kita mengejar dan meraih kehidupan itu kedua-duanya secara seimbang, sehingga kita memperoleh kebahagian dunia dan kebahagiaan akherat sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita dengan do’a yang kita panjatkan setiap waktu setelah selesai menjalankan shalat yaitu :

“Allahumma rabbana aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka”.  (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690).

 

 

 

 

 

 

Posisi Seseorang Yang Mempunyai Ilmu


Jangan lewatkan waktu anda untuk tidak membaca tafsir Qur’an dan hadist walaupun hanya sekedar 60 detik. Dengan membaca itu pengetahuan kita akan bertambah dan wawasan kita akan semakin luas.
Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki itu kemungkinan saja kita akan menjadi orang yang arif dan bijaksana. Walaupun aksioma itu tidak berarti selalu benar. Namun dalam pergaulan yang kita lihat di masyarakat orang-orang yang arif dan bijaksana itu senantiasa dihormati oleh orang lain.
Barangkali tidak ada salahnya kalau kita bisa menjadi tempat orang bertanya walaupun kita bukan seorang ustad. Tetapi pengetahuan dan wawasan yang miliki melebihi dari mereka.
Dalam salah satu firman Allah di dalam surat Al-Mujādila ayat 58 disebutkan “Hai orang orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu berlapang lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah niccaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya  Allah akan meninggikan orang orang yang beriman diantara kamu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan  beberapa derajat dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Orang-orang bijak menyebutkan bahwa  orang yang memiliki ilmu pengetahuan, memiliki ketrampilan, memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan memiliki kekayaan merupakan bukti nyata bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi bagi yang memilikinya. Rasulullah SAW bersabda: “Tatkala anak adam meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya kecuali 3 (tiga) perkara yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang mau mendoakan kedua orang tuanya.

Tentang menjadi tempat orang bertanya karena kita mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih dan bermanfaat bagi banyak orang, apalagi jika ilmu pengetahuannya itu dapat diwariskan untuk kemaslahatan umum. Meskipun kita telah meninggal dunia  ilmu pengetahuan yang dibaca banyak orang dan bermanfaat baginya dan banyak orang yang mengamalkannya insya Allah orang tersebut akan memperoleh kebaikan yang telah diperbuatnya sebagai suatu amalan kebaikan.

Oleh karenanya Rasulullah pernah berpesan “Jika ingin meraih dunia raihlah dengan ilmu, dan jika ingin meraih akhirat raihlah dengan ilmu, dan jika ingin meraih keduanya maka raihlah dengan ilmu”.

Lakukanlah Apa Yang Anda Sukai Asal Ikhlas


LIFE is very SHORT

Lakukanlah apa yang anda sukai selagi anda masih mempunyai waktu atau kesempatan. Tapi jangan untuk berbuat maksiat, selingkuh, atau pergi ketempat remang-remang. Selagi ada waktu dan badan sehat salurkanlah waktu anda untuk melakukan hobi, entah itu wisata, bermain golf, bermain bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit, berkebun, bermain catur, berkaraoke, berkumpul dengan teman-teman dan sahabat atau pergi ke festival musik. Semua itu akan memberi kebahagiaan dihati, tapi kegiatan itu tidaklah berdampak pada investasi pahala untuk masa depan.

Sekiranya anda mempunyai waktu luang sebanyak 5 menit dan sempit  gunakanlah waktu itu untuk membaca Al Qur’an walaupun hanya sekedar 2 menit saja. Selebihnya duduklah sejenak, bermuhasabah dan berdzikir untuk  mengingat kebesaran Allah. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati atau meninggal dunia, mungkin saja besok pagi, mungkin nanti malam, atau mungkin lima menit ke depan. Sungguh malaikat maut selalu bersama kita dan tidak pernah lalai dalam tugasnya.

LIFE is very SHORT

Apakah kita sudah mempersiapkan untuk menyongsong hari depan yang panjang dan yang tidak ada batas waktunya. Hidup kita ini tidak akan lebih dari satu abad atau 100 tahun lamanya, sementara itu didepan kita perjalanan panjang yang tidak ada batasnya itu menunggu kita. Adakah yang telah kita persiapkan untuk menghadapi hari-hari panjang tersebut.

Seseorang untuk menjadi pejabat dan menduduki kursi Direktur Jenderal, bahkan untuk menjadi anggota dewan perwakilan rakyat dimasa depan, kita harus merancangnya dari sekarang yaitu dengan menyusun langkah-langkah strategi yang harus dilalui. Pertama, mulai dari langkah penting yang menjadi landasan utama yaitu penetapan pendidikan yang harus kita raih, paling tidak lulus dari perguruan tinggi dengan gelar di strata 1, kemudian melanjutkannya lagi dengan pendidikan yang lebih tinggi dan seterusnya.

Selanjutnya berkompetisi masuk instansi pemerintah atau instansi lainnya dan bila telah lulus dari semua persyaratan seleksi termasuk seleksi kesehatan, maka kitapun diterima untuk menjadi pegawai dan bekerja di instansi tersebut. Selanjutnya mengikuti berbagai pendidikan berjenjang yang diselenggarakan oleh instansi yang bersangkutan mulai dari pendidikan pns, adum, spama, spamen, spati, lemhanas dan seterusnya. Sementara jenjang karir mulai dari cpns, pns, kemudian diberi kepercayaan pimpinan untuk menduduki jabatan mulai dari jabatan terendah di eselon V, kemudian naik ke eselon IV, ke eselon III, ke eselon II dan akhirnya ke eselon I. Ini adalah perancangan yang dibuat oleh setiap orang untuk meraih jabatan tertinggi, namun tidak semua orang dapat mencapai ranking yang dicita-citakan  itu dapat tercapai. Selama perjalanan karir itu, tentunya banyak hal yang harus dilalui dan dihadapi oleh seseorang dalam mencapai obsesinya. Hanya orang-orang pilihan sajalah yang dapat meraih jenjang jabatan sampai posisi yang tinggi itu. Namun bagi kebanyakan orang harus menerima dengan legowo atas apa yang telah diterimanya karena memang jumlah jabatan itu sangat terbatas dan hanya kepada orang-orang tertentulah sajalah jabatan itu diberikan atau dicapai.

Jabatan itupun kelak akan berakhir sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk pada keterbatasan umur kita yang kita miliki yaitu berakhir dengan kematian.

LIFE is very SHORT

Kematian merupakan momok atau monster bagi orang-orang yang saat ini sedang menikmati kesuksesannya dalam jabatannya, dalam karirnya, atau sedang mereguk kebahagiannya. Karena kalau boleh berkata jujur atau sejujurnya, tidak ada seorangpun yang mau mati atau merancang sebuah kematian untuk dirinya. Padahal kematian itu akan datang kepada kita setiap waktu dimanapun kita berada. Dan hendaklah kita mempersiap diri untuk sewaktu-waktu malaikat maut itu datang kepada kita.

Malaikat maut akan mendampingi kita setiap waktu dalam hari-hari yang kita lalui. Sebagai contoh dapat kita lihat dilingkungan kita sendiri Antara lain bila terjadi kecelakaan lalu lintas, kecelakaan tabrakan kereta api, kecelakaan jatuhnya pesawat terbang, kecelakaan tenggelamnya kapal laut, musibah banjir bandang, terkena lahar panas gunung meletus, tertimpa atau terimbun tanah longsor, terbenam karena gempa bumi, terbawa arus gelombang tsunami, kebakaran rumah atau gedung, dan lainnya. Karena itu kita diminta untuk selalu waspada, berhati-hati dan selalu mengingat akan datangnya kematian itu.

Kematian bukan hanya karena serangan jantung saja, atau karena penyakit diabetes, masuk angin yang kedalon, penyakit ginjal, penyakit perut, karena melahirkan, atau jatuh dikamar mandi. Tetapi memang, karena umur  kita telah sampai sesuai batas yang telah ditentukan Allah subhana huwata ala. Karena setiap orang telah ditentukan umurnya, jodohnya, rejekinya dan kematiannya sesuai perjanjian yang pernah kita nyatakan kehadapan Allah pada waktu kita berada dalam kandungan perut ibu waktu umur kita 40 hari.

LIFE is very SHORT

Dalam mengarungi hidup ini tentunya kita ingin hidup bahagia, sejahtera, dan selalu senang lahir dan batin. Ingin hidup kaya dengan harta yang berlimpah, mempunyai tabungan dan deposito di bank mana saja, dikelilingi wanita-wanita cantik, teman-sahabat dan kolega, sukses dalam hidup dengan jabatan tinggi, dihormati oleh semua orang. Kita tidak ingin sakit, susah, menderita, kelaparan, kekurangan dan lainnya sehingga akan membelenggu ruang dan waktu kita untuk bergerak dengan leluasa.

Apabila kita memang sudah memiliki segalanya, apakah kita pernah bermuhasabah tentang diri kita dan perbuatan kita selama ini, maka pertanyaan yang muncul “adakah kita telah berbuat kebaikan kepada orang-orang yang ada disekeliling kita” agar kita dikatakan orang baik. Kalau tujuannya hanya ingin dikatakan sebagai orang baik, orang yang suka menolong, orang yang suka memberi, dan minta dido’akan oleh mereka yang telah kita tolong, maka apa yang kita berikan kepada mereka atau orang banyak itu, maka kita beramal tapi belum ikhlas.

Supaya amal kebaikan yang kita berikan kepada banyak orang itu berinfaq kepada ibadah, jadikanlah kita Ikhlas. Insya Allah, perbuatan ini akan menuai pahala, apabila kita ikhlas memberikannya hanya karena Allah semata.

Rabu, 16 April 2014

Banyak Jalan Menuju Kebaikan

Banyak jalan menuju kebaikan. Apapun kegiatan yang kita lakukan untuk kebaikan akan berdampak pada ganjaran pahala asal kegiatan yang akan kita dikerjakan itu diniatkan. Hadist Nabi SAW “Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa. Famankana Hijratuhu illallah Wa Rasulihi Fahijratuhu Illallah Wa Rasulihi. Wa Mankanat Hijratuhu liddunya Yushibuha Au Imraatu Yankikhuha Fahijratuhu Ila ma Hajara Ilaihi” (Sesungguhnya Segala Perbuatan Itu Disertai Dengan Niat dan Segala Perkara itu Tergantung apa yang diniatkan. Maka Barang siapa hijrahnya karena Allah dan rasulnya Maka Hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. Dan Barang Siapa Hijrahnya karena Urusan Dunia Atau Wanita untuk dinikahi Maka Hijrahnya Untuk Apa yang telah Dihijrahinya) (HR Bukhori - Muslim).

Hari ini alhamdulillah kita masih diberi waktu, masih diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan, masih diberi kesehatan, dan masih diberi rejeki, karena dalam rejeki yang kita miliki ada bagian untuk orang-orang miskin, maka berbuatlah untuk kebaikan. Niatkanlah pekerjaan dan kegiatan kita itu untuk kebaikan dan untuk Allah semata. Nabi SAW berpesan “Andai hari esok akan kiamat sekalipun dan di tanganmu ada satu biji tanaman, maka tanamlah”.


Banyak orang yang lalai atau merasa takut rugi kalau memberikan kebaikan kepada orang lain, apalagi untuk membantu pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa, atau untuk pembangunan yayasan bagi kemaslahatan umat. Padahal apabila kita beramal dengan niat membantu orang lain berarti ia telah bersedekah kepada dirinya sendiri yang insya Allah ganjarannya adalah pahala (QS Al Qashas ayat 77, QS Az Zumar ayat 10, QS Yunus ayat 26, dan QS Al An’am ayat 160). Pahala memang tidak bisa terlihat, dirasakan karena bentuknya abstrak dan hanya Allah sajalah yang maha tahu apa yang disebut pahala.

Sungguh tidak ada paksaan dalam beramal, berbuat kebaikan, dan bersedekah kepada orang lain. Dalam hal beragama-pun, sungguh Allah SWT sama sekali tidak memaksakan kehendak (QS Yunus ayat 99, dan QS Al Baqarah ayat 256) Allah hanya mengingatkan kita agar kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan untuk diri kita sendiri (QS Al-Baqarah ayat 148 dan QS Yunus ayat 41). Adapun terpanggil ataupun tidaknya dalam hal berbuat kebaikan semua akan tergantung kepada keputusan pribadi masing-masing.

 Janganlah kita suka menyuruh orang untuk berbuat kebaikan, sementara yang menyuruh tidak pernah melakukan apa-apa. Ini adalah ciri dan sifat-sifat dari orang-orang munafik. “Jika kamu berbuat kebaikan (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat kejahatan, maka  (akibatnya) bagi diri-mu sendiri”. (QS  Al Israa’ ayat 7 dan 13)