Sabtu, 17 Mei 2014

Memanfaatkan Waktu Yang Tersisa

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat  memajukannya”. (QS 7:34)

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran”. (QS Al Ashr : 1-3)
 
Memanfaatkan Waktu Yang Tersisa

Aku bukanlah siapa-siapa. Tapi aku ada diantara kalian. Aku tidak bisa lagi berbuat sesuatu atau menolong seseorang karena ketiadaanku dalam uang dan harta. Tidak seperti dulu waktu aku masih berjaya dan ada kuasa. Pada waktu aku masih punya lembaran kertas warna hijau bergambar George Washington atau warna merah bergambar Sukarno atau kertas warna biru bergambar Suharto. Tapi aku masih bersyukur ada kesempatan berbuat kebaikan walaupun aku dalam kesempitan.

Aku sekarang bukanlah orang kaya seperti mereka yang bisa pergi kemana saja. Sekarang ini ruang gerak-ku sangat terbatas. Aku tidak bisa lagi pergi ke tempat-tempat hiburan atau pergi liburan. Aku sudah tidak bisa lagi pergi ke mall atau plaza seperti dulu. Apalagi ke foodcourt, ke kafe, ke restoran atau hotel. Karena aku memang sudah menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Harta kekayaanku sebidang tanah sudah aku jual untuk makan dan bayar hutang. Sedangkan mobilku hanya tinggal kenangan. Sehingga kemana aku pergi aku hanya naik bus umum, angkot, ojek, berjalan kaki atau sesekali menggunakan taksi.

Kalau aku ada undangan teman atau seseorang yang aku kenal. Apakah itu di gedung pertemuan atau di hotel aku tetap datang dengan taksi. Aku merasa bangga karena aku dapat duduk dengan nyaman dan tenang karena disupiri oleh supir yang profesional. Walaupun aku terkadang bingung saat aku hendak pulang, karena aku harus mencari taksi diluar gedung pertemuan. Jika kebetulan bertemu kawan, Ia pasti menyapaku “mas, mobil-mu diparkir di sebelah mana?”. Terkadang aku terlampau jujur mengatakan aku bilang “aku mau cari taksi” dan temanku yang baik itu pasti berucap “mas ikut aku saja ke luar”. Tapi aku harus menolaknya karena aku tidak ingin menyusahkan orang lain.

Mobil adalah alat transportasi dan prestige, dan aku tidak merasa rendah hati walau aku tidak memiliki. Aku tidak merasa iri kepada teman yang memiliki mobil karena dulupun aku pernah mempunyai mobil. Aku lihat masih banyak orang-orang disekitarku yang tidak mempunyai kendaraan seperti aku. Aku terkadang masih berbangga karena aku masih dapat menggunakan taksi kemana aku pergi. Ada bermacam merk mobil yang aku suka dan aneka warnanya. Ada warna putih, biru, abu-abu, kuning atau warna cream. Aku bilang, Supirku memparkirnya dibanyak tempat dan bila aku perlu cukup kuangkat telpon dan memanggil mereka setiap saat. Belum lagi mobilku yang besar berwarna merah bertuliskan 69 atau 44. Aku tinggal naik dan tidur disepanjang perjalanan.

Pendidikanku tidak tuntas dan tidak selesai karena aku tidak bisa membiayai pendidikan yang aku tempuh. Padahal aku ingin sekali menjadi seorang Doktor ahli manajemen, es de em, komunikasi, atau politik. Suatu titel tertinggi dibidang pendidikan agar aku mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas dalam bidang sosial. Atau dalam kehidupan dimasyarakat, agar aku dapat dijadikan tempat untuk bertanya untuk kemaslahatan umum. Namun aku harus cukup puas dengan strata kelas yang aku miliki karena masyarakat disekelilingku tidak ada yang bertitel doktor. Dengan pendidikanku yang Strata Satu itu aku cukup puas karena memang aku raih gelar itu dengan skripsi tulisanku sendiri. Aku lulus dengan gemilang walau aku dibantai dalam sidang ujian oleh pembimbingku sendiri. Dengan ijazah itulah aku bisa berdiri dan aku bisa melihat luar negeri. Juga daerah-daerah propinsi yang sebelum itu aku tidak pernah mimpi untuk mengunjungi.

Di instansi perkantoran tempat aku bekerja, aku bukanlah seorang pejabat tapi hanya sebagai tenaga staf dan tukang photocopy. Bahkan aku pernah sebagai tukang kliping berita dan tukang stensil. Tapi aku jalani dengan hati nurani karena itulah perjalanan karirku. Sesekali pimpinanku memberi tugas sebagai kurir pembawa surat, kadang-kadang diminta untuk mengonsep surat dan mengetik laporan. Pekerjaanku hanya sebatas perintah yang diinstruksikan oleh seorang kepala atau pimpinan. Walaupun kadang-kadang aku ada inisiatif, tapi semua berpulang kepada pimpinan. Aku hanya seorang pelaksana. Tidak lebih.

Aku tidak iri dengan mereka yang punya jabatan tinggi dan sering pergi ke luar negeri. Karena dahulupun aku pernah ditugaskan pimpinan keluar negeri, dan aku dapat pergi bersama dengan isteri dan anak-anakku. Jabatanku di perwakilan hanyalah menjalankan perintah. Mendampingi pejabat dan membawa koper. Mengantar pejabat ke hotel dan mendampingi penugasannya. Aku tidak lebih dari seorang kuli tapi pakai jas dan dasi. Aku tidak malu dengan teman-teman lain dengan status profesiku ini karena paspor-ku berwarna hitam, dan aku memang lulusan sekolah dinas luar negeri di departemen luar negeri.

Penugasanku ke luar negeri menjadi kebanggaanku. Sehingga anak-anakku mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang luar negeri. Tidak hanya sekedar melihat di televisi. Aku bangga anak-anaku bisa berceritera tentang kehidupan di luar negeri karena ia sekolah dengan bukan bangsanya sendiri. Sekarang semua itu tinggal kenangan dan sekarang aku belajar untuk menerima keadaan yang aku miliki saat ini.

Aku menyadari posisiku yang hanya sebagai pegawai kecil. Dan aku bukan siapa-siapa buat mereka apalagi buat negara. Kiprahku tidak kentara dibandingkan teman-temunku yang berprestasi hebat. Aku tidaklah punya nama karena memang aku hanya ada dibelakang meja dan sebagai penyerta. Sekarang aku diluar mereka dan bersama teman-teman lain yang dianggap tidak berguna. Sekalipun aku ada diantara mereka, namun mereka tidak peduli karena masing-masing orang mengejar obsesinya sendiri. Mereka orang-orang yang masih aktif dan punya peran dalam aktivitas Negara. Sedangkan aku sudah pensiunan dan tidak lagi mempunyai peran. Aku sudah menjadi orang yang terpinggirkan dari lingkaran birokrasi. Sehingga bila bertemu kawan yang masih aktif jangankan bertegur sapa, bertemu saja mereka membuang muka. Mereka tidak mau lagi berkataria. Katanya, aku sudah tidak selevel lagi dengan mereka dan dia. Bahkan ada yang sengaja menghindar karena takut kalau diminta uang.

Mereka begitu sibuk. Kalau mereka bekerja tidak pernah lepas berkemeja dan berdasi. Bila ada acara-acara dinas merekapun memakai jas dan sangat dihormati. Mereka bergaul dengan hanya sesama kolega dan seprofesi saja. Dirumah kediamannya, supir dan satpam siap mengabdi untuk menjagai mereka. Ada aturan yang diterapkan tidak boleh sembarang orang yang bukan selevel untuk bisa ketemu, sekalipun aku pernah mengenalnya dan bagian dari mereka.

Aku bukanlah siapa-siapa. Karena aku tidak pernah terlihat dalam kegiatan besar dimasyarakat. Aku hanya seorang insan yang hanya mengabdi bagi kemaslahatan umum yang menginginkan hidup di lingkungan kehidupan yang nyaman, aman dan Islami. Aku menjalani hari-hariku bagi kebahagiaan orang lain dan aku tidak ingin punya nama atau berpamer riya dalam berkarya. Aku terkadang merasa malu karena disekelilingku banyak orang yang lebih pintar dan cerdas dariku. Ia bisa berdakwah, bisa berdo’a, bisa memberi nasehat, dan bisa menjadi motivator.

Sekarang ini aku merasa terpanggil. Aku harus belajar dan setidaknya sama dengan mereka atau selevel dibawahnya. Tapi aku tidak peduli atau malu hati untuk belajar mengaji bersama-sama orang yang mempunyai hati. Kupikir aku masih diberi kesempatan untuk menimba ilmu agama yang tak pernah aku pelajari sewaktu aku masih aktif dulu. Sekalipun dulu aku pernah belajar mengaji, tapi ternyata aku miskin dalam ilmu agama, apalagi dalam mengaji dan mengkaji ayat-ayat Al Qur’an.

Sungguh aku malu dengan diriku sendiri, padahal aku pernah pergi keluar negeri ke Amerika Serikat, ke Las Vegas, ke Arizona, ke Washington dc, ke Singapore, ke Malaysia, ke Bangkok, ke Manila, ke Seoul, ke China dan bahkan pergi ke propinsi-propinsi di wilayah Indonesia. Tapi aku miskin ilmu agama. Aku miskin hapalan do’a. Aku miskin bacaan Al Qur’an. Aku tidak mengenal apa yang namanya ilmu mahraj, tajwid, nahwu, sharaf, dan lainnya. Aku malu belum sepenuhnya mengerti tentang rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan. Betapa bodohnya aku yang ketinggalan ilmu agama dengan mereka yang telah mengerti lebih dahulu tentang agama yang dianutnya. Tapi, Aku bersyukur masih diberi waktu dan kesempatan untuk belajar. Aku bersyukur masih dikasih kesehatan badan dan dikuatkan kakiku untuk berjalan. Sehingga setiap waktu aku dapat pergi ketempat majlis ilmu sambil membawa tas kecil dipundak yang berisi kertas-kertas catatan tafsir qur’an. Aku bangga dalam usiaku yang dianggap sebagai orang lansia tapi aku masih tetap belajar. Komunitasku saat ini adalah orang-orang tua yang masih punya semangat belajar. Aku bertekad memanfaatkan waktu yang tersisa dalam mencari sesuatu yang terbaik untuk kehidupanku dimasa depan.

Dulu kantor pusatku hanya ada di jalan pejambon. Kini kantorku adalah masjid dan mushala. Tempat rapatku adalah majlis ilmu dan tempat-tempat orang yang suka memberi ceramah. Komunitasku adalah orang-orang tua yang telah renta dan papa. Yang jalannya saja sudah susah. Yang rambutnya sudah putih-putih. Dan kalau bicara agak sedikit keras karena pendengarannya sudah kurang peka.

Aku bersyukur duduk dalam organisasi sosial yang setiap waktu bekerja untuk orang-orang yang terkena musibah. Aku dan teman-temanku yang setia selalu bekerja bersama. Kalau ada musibah kendaraanku ambulan pengangkut jenazah. Dan tugasku mengantar mereka ketempat peristirahatan yang terakhir untuk selama-lamanya.

Ya Allah, berilah kesehatan kepadaku untuk aku dapat mengabdi pada pekerjaan sosial ini. Aku sama sekali tidak mengharapkan sesuatu. Aku tidak mencari nama atas pekerjaaku ini. Aku hanya mencari ridha-MU dalam memanfaatkan sisa umurku ini untuk amalan dan kebaikan bagi banyak orang. Ya Allah berikanlah aku kesempatan untuk aku mengamalkan ilmuku agar dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ampunilah aku ya Allah jika aku salah atau khilaf dalam dalam aku beramal.

 

 

 

 

Senin, 21 April 2014

Beragamalah Dengan Benar


Orang-orang sombong itu bila disampaikan tentang kebenaran ia akan meremehkan dan menolaknya. Mereka merasa selalu benar apa yang dikerjakan padahal tidak ada dalilnya. Kebiasaan yang mereka lakukan dalam hal beragama hanyalah  taqlid buta sebagai pengikut dan pengekor. Kalau ada yang mengingatkan tentang kebenaran, mereka selalu mencap alirannya berbeda atau orang-orang wahabi (meski mereka tidak faham apa itu wahabi).
Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana seharusnya bershalawat kepadanya, tidak dengan cara mengkultuskan dan ghuluw. Belajarlah Islam secara kaffah dan jangan hanya dari satu sumber saja biar kita lebih arif dan bijaksana. Islam bukan agama tradisional atau keturunan tapi belajarlah beragama dengan benar. Kita adalah orang-orang yang terlahir pada abad modern dan banyak dikungkung dalam ilmu pengetahuan yang masih primitip mengikuti “katanya”, padahal beragama Islam bukanlah mengikuti hawanafsunya tetapi haruslah dengan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan agar kita tidak menjadi orang yang merugi di akherat kelak nanti.

 

 
 
 
 
 
 
 

 

 

Waspada Terhadap Teman Sendiri

Siapa yang menanam dialah yang akan menuainya. Tapi bisa jadi siapa yang menanam orang lain yang akan menuainya. Artinya kita tidak akan memperoleh hasil apa yang telah kita perbuat.

Hati kita adalah ladang untuk menanam kebaikan ataupun menanam kejahatan. Apabila kita menanam kebaikan maka kita akan memperoleh atau menuai kebaikan itu dan ganjarannya adalah pahala yang akan kita peroleh di akherat kelak. Apabila hati kita menanam kejahatan suka menggunjing orang lain, suka merendahkan orang lain, suka meremehkan orang lain, suka menfitnah orang lain, suka mengadu domba orang lain, suka iri-benci dan dendam kepada orang lain, suka marah-marah kepada orang lain, maka pada saat itu tidak akan ada kebaikan yang tumbuh di ladang hatimu, bahkan kebaikan yang telah tertanam dihatimu-pun akan sirna pula. Kalau kita suka meng-ungkit-ungkit kebaikan yang pernah kita perbuat pada seseorang atau orang lain. Karenanya janganlah amal-amal kebaikan yang telah kau tumbuhkan diladang hatimu itu menjadi hilang dengan sia-sia.

Tebarkanlah salam dan kasih sayang disekelililingmu maka engkau akan memperoleh teman dan sahabat yang selalu bersamamu. Bahkan mungkin akan menolongmu bila engkau mengalami kesulitan, kesusahan, kecemasan, kekecewaan, kegalauan, ketidak mampuan, kegundahgelanaan,  yang engkau temui dalam perjalanan hidupmu. Dialah teman baik dan sejatimu yang siap membantu dan menolongmu. Tiada keraguan karena ia seiman denganmu.

Janganlah kita merasa bangga dengan teman yang banyak yang bertebaran disekelilingmu, tapi tidak dapat membantu atau menolong kita pada saat kita benar-benar memerlukan bantuannya dalam kesulitan, dimana kita sangat membutuhkan pertolongan mereka. Tapi dia meninggalkan kita dalam kesendirian dan tidak berbuat apa-apa untuk kita.

Dan berhati-hatilah dengan teman seiring sejalan dan seperjuanganmu yang kelihatan baik dihadapanmu tapi dia akan menusuk punggungmu dari belakangmu. Dialah orang-orang munafik yang suka mencari-cari kesalahanmu, yang suka memfitnahmu, dan berusaha menjatuhkanmu karena adanya kepentingan yang tujuannya. Dan engkau diaggapnya sebagai rivalnya yang dapat menghalangi obsesinya dalam mencapai tujuannya itu. Karenanya engkau harus waspada terhadap teman-teman yang ada disekelilingmu”.

 

 

Amalan Yang Sia-sia

Tidak semua perbuatan baik itu dapat dilakukan dengan ikhlas. Namun seyogyanyalah kita berupaya agar perbuatan baik yang kita lakukan itu bernilai ibadah. Janganlah amalan yang kita perbuat itu diikuti dengan perasaan riya walaupun hanya sepintas lalu saja. Karena dengan ke-ikhlas-an itu berarti kita telah melakukan suatu perbuatan yang insya Allah, Allah ridha, sehingga kita mendapat ganjaran pahala.

Kita akan tersanjung kalau kita dipuji orang, karena kita dianggap sebagai orang yang baik hati. Orang yang dermawan. Orang yang suka menolong kesusahan orang lain.  Orang yang suka memberi pinjaman kepada orang-orang yang memerlukan bantuan keuangan karena dihimpit oleh tekanan ekonomi.  Orang yang suka berderma bagi kemaslahatan umum. Orang yang suka berinfaq ke masjid atau mushala. Orang yang suka membantu membangun panti asuhan anak-anak yatim. Orang yang suka memberi pencerahan dakwah di masjid-masjid atau mushala-mushala. Atau orang yang suka berceramah di majlis-majlis taklim.

Karena pujiannya itu dimaklumkan didepan umum dan diketahui oleh orang banyak, maka ia merasa tersanjung dan bangga sebagai orang yang baik, sebagai orang yang suka membantu bagi sesama, sebagai kyai-da’I- ustad yang hebat karena dakwahnya yang sangat menyentuh hati dan menggugah semangat untuk ber-taqwa.

Mereka yang dipuji dengan sendirinya menjadi orang yang terhormat di dalam pandangan masyarakat dan lingkungannya.  Sehingga kalau mereka hadir di suatu acara pertemuan selalu merasa tersanjung. Atau disetiap acara pertemuan ia minta ditempatkan tempat duduk tertentu dan minta dihormati dengan cara mengulurkan tangannya agar dapat dicium.

Apalagi bila dalam suatu pertemuan itu ada pejabat penting yang hadir, dan ia berusaha untuk bertemu dan duduk disebelah kirinya. Kemudian berceritera ini dan itu seolah-olah ia sangat berperan dalam suatu peristiwa yang pernah terjadi. Atau sengaja menonjolkan program yang akan dilaksanakan padahal ia tidak berada dalam ruang lingkup kegiatan tersebut. Maka sikap seperti ini adalah sikapnya orang-orang munafik yang suka membuat kebohongan dengan memperalat orang lain agar ia dikatakan sebagai orang yang arif, bijaksana, penuh idea, dan menonjolkan diri agar dipuji. Mereka memakai topeng untuk kepentingan pribadinya belaka.

Kalaulah perbuatan seperti ini menjadikan kebanggaan dalam hatimu, menjadikan tujuan untuk menarik perhatian orang lain, maka banggamu itu akan menghapuskan semua amalmu yang telah kau tanam dihatimu.

Karenanya janganlah kita mengharap pujian dalam beramal, memamerkan kebaikan kepada semua orang, dan mengharapkan imbalan jasa atas apa yang telah kita perbuat kepada orang lain. Biarkanlah orang lain tidak mengetahui atas apa yang kita perbuat bagi sesama untuk kemaslahatan umum karena hanya semata-mata ingin mendapat ridha Allah,  sehingga amal perbuatan kita itu menjadi suatu investasi pahala yang kita tanam untuk masa depan kehidupan akherat kelak.

 

Hidup itu tidak selamanya bahagia

Hidup itu tidak selamanya bahagia.  Itulah sebuah ungkapan yang sering dikatakan orang dalam menghadapi hidup yang tidak pernah menentu.
Ada waktu senang dan ada waktu susah datang silih berganti menurut kehendak-NYA. Ibarat roda pedati ia berputar menurut sumbunya. Pada waktu kehidupan kita berada diatas, semua masalah yang kita hadapi tidak ada yang bisa dipermasalahkan, karena pada posisi itu hidup kita sejahtera. Pada posisi itu, kita telah memiliki segalanya. Kita mempunyai kedudukan yang tinggi, kita punya uang dan harta kekayaan yang melimpah, dan kita bisa berbuat apa saja menurut kehendak kita karena kita menduduki jabatan tinggi dan mempunyai kekuasaan. Apapun dapat kita beli termasuk kehidupan dunia ini yaitu kesenangan dan kebahagiaan. Kita merasa bahwa apa yang telah kita miliki itu adalah sudah sewajarnyalah kita milki. Kita tidak perlu peduli dengan kehidupan orang lain. Mungkin kita tidak perlu untuk memikirkan hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawab kita yang menjadikan kepala ini pusing. Keluhan seperti ini timbul karena banyak orang-orang yang sudah hidup mapan selalu digerecoki oleh orang-orang tertentu yang mengatasnamakan panitia meminta sumbangan dan lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang menjadikan kurang simpati atas orang-orang yang hadir atau berkunjung kerumahnya. Padahal kita tidak perlu menutup pintu bagi orang-orang yang kita kenal kalau mereka mau berkunjung atau bertamu kerumah kita. Kita harus menunjukan kepada siapa saja bahwa dalam pergaulan masyarakat kita harus hidup berdampingan dan saling tolong menolong.

Kita suka egois dengan apa yang sudah kita miliki itu. Sehingga dalam do’a yang kita panjatkan agar kita berumur panjang dan berharap  tidak mati saat ini. Kita selalu berharap dapat  hidup panjang seribu tahun lagi agar kita dapat mereguk kesejahteraan dan kebahagiaan yang saat ini telah kita miliki.

Pada waktu kita berada dibawah atau putaran roda ke bawah dan terus kebawah, masya Allah, hidup terasa susah, hidup terasa menderita, dan hidup terasa sengsara sekali. Kitapun bertanya dan menyesali dimanakah teman-teman seperjuangan yang telah lama bersama kita. Adakah ia mau peduli dengan kehidupan kita ? Barangali sudah menjadi axioma bahwa saat kita sejahtera dan bahagia semua kolega kita, teman-teman kita, sahabat-sahabat kita, bahkan orang-orang yang tidak kenalpun akan dekat dengan kita. Tapi apabila kita hidup miskin, susah, dan menderita, maka semua orang-orang yang kita kenal pasti akan menjauhi kita.

Kalau kita kembalikan masalah kehidupan ini pada agama, maka kebahagiaan dan kesengsaraan itu adalah ujian. Mampukah kita tetap bersyukur kepada ilahi rabby  dalam kondisi susah, sengsara, menderita, penuh kecemasan, kesehatan tubuh yang tidak sehat dan berpenyakitan, tidak punya uang, rumah reot dan kebocoran kalau hujan, dan banyak hutang. Dengan keadaan kesusahan seperti ini terkadang kita tidak sabar dalam menghadapi kenyataan hidup susah yang berkepanjangan dan rasanya kita ingin segera mati. Padahal apabila kita dalam kesusahan kemudian kita tidak sabar menerima kesusahan itu, dan kemudian kita mengambil jalan pintas dengan cara gantung diri atau bunuh diri, maka berdosalah kita karena kita telah putus asa dari rahmat Allah dan pertolongan yang akan Allah berikan kepada kita. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar kita bersabar dan harus selalu bersyukur dalam segala hal.

Imam Ahmad berkata, “Hasan meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Luhai’ah, dari Ibnu Yunus, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mengharap-harap kematian dan jangan pula kalian berdoa untuk itu, sebelum ia benar-benar datang dengan sendirinya. Kecuali, apabila orang dimaksud telah yakin dengan amalannya. Karena, apabila seseorang dari kalian meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya. Dan sesungguhnya bagi seorang mukmin, tidaklah umurnya bertambah melainkan akan menambah kebaikan baginya.”

Dalam salah satu hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata, "Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku”.

 

Tidak Terasa Aku Sudah Tua

Kemarin mestinya aku mengucapkan selamat hut kepada ibu mertuaku yang
ke 79, tapi hal itu tidak terjadi, karena ibu mertuaku telah berpulang ke rahmatullah beberapa minggu yang lalu, sekarang aku menghitung hari, menunggu hari yang ke 100 harinya.

Kemarin temanku yang sudah pensiun lama dengan tergesa-gesa dilarikan ke rumah sakit, karena sakit jantungnya anfal lagi. Selain sakit jantung, ia juga punya penyakit lain seperti asam urat, diabetes, kolesterol, darah tinggi dan penyakit batuk yang tidak sembuh-sembuh.

Di blok lain, 300 meter dari rumahku, aku baru saja mengunjungi temanku yang lain, ia terkena stroke ringan, sehingga beberapa hari tidak terlihat di waktu magrib waktu shalat berjamaah.

Di blok yang lain, 400 meter dari rumahku, aku juga mampir dirumah temanku yang terkena stroke, ia sakit hampir sebulan, sehingga tidak lagi bersama kami untuk shalat berjamaah di masjid.

Sementara temanku yang lain, yang tinggal di blok lain, Ia telah tergeletak dirumahnya beberapa bulan lamanya, karena penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

Dipojok sana, temanku yang satu itu juga terkena penyakit tua, jalannya sudah tertatih-tatih, kalau batuk tidak pernah berhenti.

Kalau sedang berceritera tentang penyakitnya banyak sekali.

Kemarinya lagi, aku menjenguk orang tuanya sahabat anakku yang meninggal karena serangan jantung, padahal umurnya lebih muda setahun dari aku. Padahal ia tidak sakit apa-apa ia sehat wal afiat, tapi umurnya telah sampai.

Kemarinnya lagi dan hari ini, anak-anak keponakan bergiliran masuk rumah sakit terkena DB. Masya Allah, betapa banyaknya macam penyakit yang diderita oleh teman-temanku, termasuk aku yang terkena penyakit DM.

Tetanggaku disebelah rumah, juga baru saja dimasukan ke rumah sakit semalam, karena serangan jantung, padahal ia begitu sehat dan gagah. Ternyata penyakit tidak mengenal orang sehat atau orang yang berpenyakitan.

Kemarin, di masjid Al Muhajirin diselenggarakan pemeriksaan kesehatan murah bagi anggota TAWAAL (peserta Tabungan Wakaf Akherat Al Muhajirin), kulihat begitu banyak teman-temanku yang datang untuk ikut memeriksakan kesehatannya.

Aku menunggu giliran dan kulihat mereka yang datang sudah tua-tua.
Sudah renta, dan sudah tidak berdaya.
Rambutnya sudah memutih, tubuhnya sudah ringkih.
Tangan dan kakinya tidak sekuat dulu, kulitnya saja sudah pada keriput.
kalau tersenyum giginya sudah pada bolong karena ompong.
Mereka datang ada yang dipapah, ada juga yang sudah dengan tongkat penyangga.
Mereka datang dengan keluhannya masing-masing.
Yang sakit kakinya, yang sakit tangannya, yang sakit giginya,
yang sakit pusing, yang sakit batuk, yang jantungnya berdebar-debar, yang asam uratnya tinggi, yang kolesteralnya tinggi, yang punggungnya sakit, yang tensinya tinggi, yang tidak bisa tidur,
yang masuk angin, yang flu-nya tidak sembuh-sembuh,
yang demamnya tinggi, yang tenggorokannya sakit, dan yang lainnya, belum lagi ada yang kanker.
Ada juga yang benar-benar kanker (kantong kering) sehingga penyakitnya makin bertambah-tambah.

Masya Allah, betapa banyaknya penyakit ini bila kita telah tua.
Penyakit, bila Ia datang tidak bicara, tidak mengetuk pintu, dan tidak memberi kode.
Kalau penyakit telah bersarang di badan ini, ia tidak mau pergi.
ia ingin menjadi teman dan bahkan ingin menjadi sahabat.

Tubuhku kini sering sakit-sakitan, aku sudah tidak muda lagi seperti dulu
Yaa Allah….sehatkanlah aku…ampunilah aku…
jauhilah aku dari berbagai penyakit… Yaa Allah….

Allahumma innii a'uudzubka minal barashi
wal junuuni wal judzaani wa sayyi'il aswqaami
Allahumma 'aafinii fii badanii.
Allaahuma 'aafinii fi sam'ii.
Allaahumma 'aafinii fii basharii.
Allaahumma innii a'uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil qabri
laa illaaha illaa anta…amin…..

 

 

 

Siapa Yang Menanam Dia Yang Akan Menuainya

Setiap orang akan memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Apapun usaha yang telah dilakukannya, buruk dan baik adalah buah perilaku yang dilakukannya sendiri. Artinya, “siapa yang menanam, tentulah dia yang akan menuainya”, sekalipun terkadang ada juga yang menyebut “siapa yang menanam tapi orang lain yang menuainya”.

Axioma kedua ini adalah pengecualian karena sesuatu hal yang menyebabkan karena ingin berbuat kebaikan kepada orang lain atau karena ingin memberikan sesuatu kepada anak keturunannya.

Untuk aksioma yang kedua ini bisa saja hal itu terjadi, namun biasanya dilakukan oleh orang-orang yang arif dan bijaksana, serta mempunyai pandangan yang jauh kedepan bagi anak dan keturunannya. Mereka berprinsip menanam kebaikan saat ini dan mengharap hasilnya dapat dinikmati oleh anak dan keturunannya agar dapat hidup bahagia dan sejahtera. Ibarat seorang kakek/nenek yang sudah tua dan telah berumur dan ia mempunyai pekarangan yang cukup luas di sekitar rumahnya, ia menanam pohon kelapa atau pohon buah (mangga, durian, rambutan, jambu, sawo,  dan lainnya) dipekarangannya, sementara sebelum menikmati hasilnya ia telah meninggal dunia, maka warisannya itulah yang akan diterima dan dinikmati oleh anak-anak keturunannya dan mungkin juga orang lain yang ada disekitarnya.

Pohon-pohon yang ditanam itu merupakan kebaikan yang dibangun untuk dinikmati oleh siapa saja termasuk untuk burung-burung, codot, kelelawar bajing dan binatang lainnya yang suka dengan buah-buahan. Mereka tidak mengusirnya karena tujuan menanam itu adalah untuk manusia dan binatang, sehingga ia merasa bangga dapat juga memberikan makan bagi binatang-binatang liar tersebut yang ingin memakan buah buahan tersebut.

Kakek nenek kita dulu memang memiliki sawah atau kebun itu karena warisan dari orang tuanya. Sementara sekarang ini banyak orang yang memiliki sawah, kebun atau pekarang dibelinya dari uang hasil korupsi, dari hasil mencuri-merampok atau menggerogoti keuangan negara, atau merekayasa proyek fiktif yang anggarannya masuk dalam rekening pribadi, dan atau melakukan korupsi yang pada akhirnya ia memiliki harta kekayaan dari hasil penghasilan yang tidak sah. Padahal dengan melakukan korupsi itu ia akan membawa kesusahan dan penderitaan bagi dirinya dan keluarganya.

Mereka sengaja melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu dengan melaku korupsi  dengan maksud untuk memperkaya diri karena harta kekayaan yang dimiliki masih dianggap kurang. Sehingga terlena untuk terus melakukan penyelewengan dan merekayasa laporan fiktif atau palsu. Padahal apabila ia tertangkap oleh KPK dengan dakwaan melakukan perampokan uang negara maka perbuatan itu  dianggap sebagai melanggar hukum dan kriminal. Namanya akan mencuat menjadi populer dan terkenal keseantaro dunia seperti selebritis karena selalu disebut-sebut setiap saat dalam berita atau headline news. Sedangkan wajahnya selalu di close up terpampang di media TV atau di media cetak. Dan yang lebih memalukan lagi adalah diberinya pakaian trophy warna orange dengan tulisan dibelakang punggungnya sebagai “Tahanan KPK”.

Allah SWT telah mengingatkan kepada kita agar kita waspada dan berhati-hati dalam hal menjaga amanah. Karena jabatan itu adalah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Apabila kita telah merusak amanah itu, maka bersiap-siaplah kita menerima kehancuran yang kita buat sendiri dan berdampak tidak hanya kepada diri kita sendiri tetapi juga kepada keluarga kita (isteri, anak, orang tua dan mertua, famili dan saudara sekandung). Kita akan merasa malu hidup ditengah-tengah masyarakat dengan sebutan sebagai ”Koruptor”.

Allah berfirman dalam Al Qur’an di surat Al Israa’ ayat 15 menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain”.