Minggu, 22 Juni 2014

Menganggap Orang Lain Bodoh

Jika kita telah pensiun, dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang kita sudah mengenalnya sejak muda, janganlah kita merasa dan menganggap bahwa diri kita itu orang yang paling pintar, paling tahu, paling mengerti, dan paling menguasai permasalahan, sehingga menganggap semua orang yang kita kenal itu berada dibawah kita.

Padahal, belum tentu pengetahuan yang kita miliki  itu berada diatas pengetahuan mereka. Walaupun kita pernah sebagai mantan pejabat, banyak teman-teman pejabat, dekat dengan penguasa dan orang-orang penting, apalagi pernah keluar negeri, maka kita merasa bahwa posisi kita diatas mereka. Sehingga sikap yang keluar dari diri kita adalah kesombongan, keangkuhan, kecongkakan, ujub, ghuluw, meminta orang lain agar memberi penghormatan, meminta orang lain agar memberi sanjungan, dan menganggap semua orang yang berada dilingkungannya, berada dibawahnya, dan semua bisa didikte.

Jika diantara orang-orang yang dianggap bodoh bersatu, dan membiarkan atau mengacuhkan kepongahan kita, maka harga diri kita telah jatuh dan kita tidak lagi punya teman, kawan atau sahabat. Masyarakat mulai menilai, atas perilaku dan kelakuan yang kita perbuat terhadap mereka, dan mereka mulai mengkritisi apa yang pernah kita ucapkan, maka semua orang akan mencibirkan kita, mencemoohkan kita, dan mengasingkan kita dari lingkungan yang selama ini kita anggap mereka dibawah kita. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk meng-aktualisasi diri atas pengetahuannya, sikapnya, dan perilakunya agar tidak dikatakan bodoh atau kurang pendidikan. Sementara kita terbuai dalam mimpi-mimpi indah dan angan-angan yang tinggi agar semua orang selalu menghormati dan melayani kita. Tapi yang kita peroleh hasilnya adalah sebuah kekecewaan, kegalauan, dan diasingkan oleh lingkungan masyarakat yang justru kita buat sendiri.

 

 

Salah Satu Ciri Orang Munafik Suka Iri dan Dengki

Orang bijak bilang :

“Dalam kehidupan dimasyarakat yang majemuk banyak orang yang suka memakai topeng untuk menutupi dirinya agar orang lain menilai bahwa apa yang ia lakukan, atau yang ia kerjakan dalam kegiatannya sehari-hari ingin nampak baik, berbuat baik, suci, jujur, alim, tidak suka bohong, tidak suka menipu, tidak suka memfitnah, tidak suka memprovokasi, mencari-cari kesalahan orang lain, atau tidak suka menceriterakan keburukan orang lain. Kalau berbicara layaknya lemah lembut ingin didengar, atau kalau menasehati hendaknya apa yang keluar dari mulutnya dituruti. Kalau bergaul dalam masyarakat lingkungannya sepertinya dialah orang yang paling tahu segalanya. Semua upaya dilakukannya dengan mengemas tuturkata dan tingkah lakunya yang seolah-olah itulah karakternya atau pribadinya.
Orang-orang ini sebenarnya menyembunyikan topengnya dibalik kebusukan hatinya bahwa apa yang diperbuatnya seolah merupakan kebaikan. Padahal apabila ia menyadari akan perbuatannya, ia akan merasa malu dan takut akan mendapat ancaman dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya yang disebut dalam Qur’an di surat Al Munafikun ayat 4.

Bagi orang-orang yang mempunyai sifat iri dan dengki, apabila ada seseorang yang mempunyai konsep, proposal, atau idea untuk kegiatan perbuatan baik bagi banyak orang, segera dipotongnya, dan bahkan dijegalnya. Orang-orang yang mempunyai karakter seperti ini sama sekali tidak senang atau tidak suka untuk mendukungnya, apalagi memberikan apresiasi atas prestasi yang dicapainya. Padahal apa yang dilakukan seseorang itu hanya untuk mewujudkan keinginannya bagi kepentingan orang banyak seperti menjadi sponsor untuk kerja bakti kebersihan lingkungan, mengadakan ceramah agama dalam upaya membuka wawasan pemahaman agama, mengadakan pencerahan umum mengenai sesuatu masalah, mensponsori kegiatan sunatan masal, mengadakan bakti sosial kesehatan gratis, meningkatkan pendidikan masyarakat, dan atau menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan umum.
Orang-orang yang tidak suka akan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain itu akan mengatakan bahwa apa yang diperbuat orang lain itu adalah semata-mata untuk mencari ketenaran, mencari keuntungan pribadi dengan berkedok kepada kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak, dan atau untuk mencari dukungan massa bagi kepentingan pribadinya dalam berkiprah dimasyarakat. Semua kegiatan baik itu, oleh orang-orang yang tidak suka, hanya dipandang sebelah mata saja. Ia mengatakan kepada orang-orang yang ada disekelilingnya bahwa ia mampu untuk berbuat seperti itu. Maka timbulah didalam hatinya rasa kesombongannya, kepongahannya, keangkuhannya, dan arogansinya. Iapun memandang rendah kepada semua orang yang ada dibawahnya atau yang ada disekelilingnya.

Orang-orang seperti ini sebenarnya lupa bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT sesuai firman-Nya sebagaimana disebut dalam Qur’an di surat Al Baqarah ayat 10.
Di sisi lain, sebagian orang yang suka iri dan dengki tidak senang melihat kegiatan kebaikan itu terlaksana. Mereka berusaha untuk menghasut orang lain agar memboikot kegiatan dengan menyebar fitnah untuk menjegal kegiatan yang bersifat kebaikan itu  batal dilaksanakan, atau tidak terwujudkan. Sementara itu ia tersenyum dan menepuk dada melihat usahanya untuk memprovokasi orang-orang lain itu berhasil. Karena memang ia tidak senang kalau kegiatan kebaikan yang dilakukan orang lain itu berhasil dilaksanakan. Ia merasa panas hatinya, ia merasa kecewa, karena ia merasa dilewatkan oleh orang lain. Sehingga iapun berusaha mencari kawan atau teman yang seprofesi untuk menggagalkan kegiatan yang dilakukan seseorang itu dengan seolah-olah menjadi pendukungnya. Padahal ia berusaha dengan membuat strategi jahatnya untuk menjatuhkan atau menghancurkan program dan kegiatan seseorang. Ia akan senang melihat kegagalan orang lain. Ia akan tersenyum atas keberhasilan menjegal orang lain, dan Iapun akan bahagia atas keberhasilannya dalam menggagal misi, tugas atau pekerjaan orang lain.

Orang-orang ini sebenarnya tahu bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT di dalam Qur’an di surat An Nisa ayat 145. Namun, karena ketidak-senangannya kepada orang lain, atau karena kebenciannya pada seseorang, maka ancaman tersebut terlupakan oleh hawa nafsunya.

Sebagian yang lain yaitu orang-orang yang tidak ber-su’udzon kepada seseorang menilai bahwa seharusnya memberikan apresiasi dan dukungan atas usaha dan upaya yang dilakukan itu. Sesuai proposal atau konsep yang disusun dimana telah jelas tujuannya, maka kegiatan itu diprogramkan untuk kemaslahatan umum untuk berbuat kebaikan bagi banyak orang tanpa pamrih, tanpa mengharap gaji, dan tanpa mencari keuntungan bagi dirinya. Kegiatan yang dilakukan itu semata-mata hanya untuk kepentingan orang banyak. Orang-orang yang ikhlas dan berhusnudzon ini akan selalu memberikan dukungan dan apresiasinya bagi kegiatan yang berdampak pada perbuatan baik. Karena perbuatan baik itu merupakan investasi pahala buat amalan masa depan, sehingga semua perbuatan baik itu selalu didukungnya.
Bagi orang-orang yang ikhlas dan suka mendukung kegiatan baik untuk orang banyak, mereka akan diberi ganjaran pahala, sebagaimana firman Allas SWT dalam Qur’an di surat Al Isra ayat 37.

Dalam perjalanan waktu, perbuatan baik untuk kemaslahatan umum dan  bagi kepentingan orang banyak itu terwujud, walaupun banyak tantangan, dan kritikan dalam upaya melaksanakan kegiatannya itu. Karena niat misi-nya itu semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka orang-orang yang mempunyai hati bersih tetap mendukungnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan”. (Hadits diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu).

Inilah acuan yang dijadikan pegangan bagi orang-orang yang suka berbuat kebaikan, walaupun banyak orang yang tidak suka. Dari banyak orang yang tidak suka,  namun masih ada orang-orang disekitarnya yang mendukungnya, maka kegiatan kebaikan itu dapat berjalan.
Sungguh kita semua ini diingatkan, kalaulah memang kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan bagi banyak orang, janganlah kita suka menjegalnya, memboikot, dan menyebarkan fitnah. Berilah dukungan dan apresiasi kepada seseorang yang memang mampu untuk mengorganisir suatu kegiatan. Janganlah kita menjadi provokator, motivator, atau inisiator untuk menggagalkan program kegiatan seseorang yang dinilai orang banyak sangat bermanfaat. Inilah salah satu ciri orang-orang munafik yang ada disekitar kita yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Waspadalah”.

Jangan Suka Memprovokasi Orang Lain

Orang bijak bilang :
 “Kenapa orang suka mengeritik, menjelekan, mendiskreditkan dan memfitnah seseorang, apabila melihat orang lain berbuat kebaikan, sementara kita tidak dapat melakukan apa-apa. Padahal perbuatan kebaikan yang dilakukan seseorang itu sama sekali tidak merugikan kita, bahkan kegiatan itu dapat membuat orang lain ikut memperoleh keuntungan berupa amal kebajikan sebagai investasi pahala yang dikumpulkan untuk bekal dimasa datang buat kehidupan kita. Karena itu, janganlah kita suka memprovokasi mengajak orang lain untuk membeci seseorang yang tidak kita sukai agar orang lain juga turut membencinya. Janganlah kita suka meremehkan orang lain atas kemampuannya untuk berbuat kebaikan bagi kemaslahatan umum, sementara kita tidak mampu untuk melakukannya. Seharusnya kita mendukung, mensupportnya dan memberikan apresiasi kepadanya. Jika kita suka mengeritiknya dan kebencian yang kita perlihatkan, maka itulah salah satu ciri dari kemunafikan kita yang kita tonjolkan kepada orang lain”.



 

Selasa, 27 Mei 2014

Istriku Makin Tua Semakin Cantik

Kalau ada orang yang bertanya kepadaku, siapakah wanita paling cantik saat ini di dunia, maka aku akan menjawabnya, istrikulah orang yang paling cantik di dunia ini. Walaupun banyak wanita cantik dikalangan selebrity dunia seperti Kate Winslet, Vanessa Williams, Felicity Huffman, Gwyneth Paltrow, Jennifer Aniston, Cindy Crawford, Halle Berry, Oprah Winfrey, Demi Moore, dan Sarah Jessica Parker tidak menjadi perhatianku.  

Dulupun demikian, walaupun Hemma Malini, Ayesha Takia, Susanne Roshan, Sofia Latjuba, Ayu Soraya, Ayu Azhari, Betharia Sonatha, Christin Panjaitan, Diane Keaton, Meryl Streep, Helen Mirren, cantik, aku pilih perempuan dari Cipinang Kebembem V 12B menjadi istriku, karena dialah perempuan yang aku pilih dari sebanyak 3 milyar perempuan yang ada pada saat itu. Dialah perempuan yang kini menjadi ibu dari anak-anaku dan eyang putri dari cucu-cucuku.

Saat ini, setelah perjalanan mengayuh bahtera rumah tangga selama 33 tahun, istriku semakin bertambah umurnya, dan aku sering melihat sekilas sudah ada kerutan didahinya dan warna rambutnyapun telah mulai ada yang beda berwarna keputih-putihan. Namun aku bangga karena kerutan dan warna rambut itu terjadi bersama dalam perjalanan hidupku.

Aku telah menjadi orang pensiunan yang kini telah terpinggirkan dari lingkungan organisasi kerja. Aku banyak dirumah, membaca,  mendengarkan music, menulis, da nada juga waktu nganggur, dialah yang setia mendampingi diriku. Walau kadang-kadang aku harus pergi keluar rumah untuk memenuhi undangan pengajian, atau undangan rapat dari organisasi yang aku berada didalamnya. Aku selalu bersama istriku kala ada undangan pesta pernikahan dari teman atau sahabatku.

Aku merasa sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, aku sudah tidak memiliki paspor hitam lagi, dan aku sudah tidak punya jabatan lagi, namun istriku selalu setia mendampingi diriku, menerima keadaanku dalam keikhlasan dan pengabdiannya dalam menjalani hari-hari panjang yang tidak pernah aku tahu kapan perjalanan ini akan berhenti.

Aku senantiasa mendo’akan istriku agar ia selalu sehat dalam mendampingi perjalananku, dan aku selalu memperhatikan istriku walau kini telah bertambah usianya. Perasaan ini datang secara perlahan tapi pasti.

Awal pernikahanku, aku tahu istrikulah yang cantik, atau yang tercantik,
itu pasti, karena aku telah memilihnya. Aku masih muda ketika itu, aku masih aktif dalam pekerjaanku, aku selalu banyak tugas yang dibebankan pimpinanku, sehingga aku harus pergi pagi pulang larut malam. Bahkan hari-hari liburkupun tersita oleh tugas pekerjaan dan kegiatan itu hampir setiap hari tiada henti.

Dalam perjalananku pulang, di luar rumah, aku melihat banyak wanita-wanita cantik, sama seperti istriku, bahkan lebih cantik. Namun aku tidak pernah peduli, sehingga perempuan cantik lainnya tidak menjadi perhatianku. Aku telah memilih istriku yang setia mendampingi diriku.

Dan aku ingin cepat sampai dirumah karena ia sedari pagi telah kutinggalkan dirumah seorang diri. Ia mengurusi anak-anak, mencuci, menstrika, cuci piring, memasak dan membersihkan rumah dari pagi sampai malam hari.

Waktu terus berlalu, kujalani bersamanya dalam suka dan duka. Tidak terasa perjalanan itu membawa kami menuju pada usia yang makin tua. Kini, kami memasuki usia senja, tetapi dimataku, istriku semakin kemari, semakin tua, tapi semakin cantik saja, sehingga aku sampai pada kesimpulan, istriku ternyata wanita tercantik di dunia.

Bagaimana aku  sampai pada kesimpulan itu, itulah yang ingin aku bagi pada teman-teman dan sahabat semua.

Istriku menganggapku sebagai bagian dari dirinya, ketika aku jatuh sakit, aku dibawanya kerumah sakit, ditunggui siang dan malam. Dia begitu perhatian kepadaku, aku begitu dicintainya, dibelai dan dikasihinya. Selama aku dirawat ia tidak pernah lepas dalam berdo’a. Meskipun apa yang telah aku terima, begitu juga yang telah aku berikan padanya, tetapi yang aku terima itu, perlahan-perlahan membuat aku semakin mabuk untuk hanya tertumpu pada satu titik. Dialah istriku, tak ada kemungkinan yang lain.

Istriku tidak menganggap aku sebagai penanggung jawab bagi kebutuhan materi yang kami sangat butuhkan ketika muda dulu, tetapi kepergianku mencari nafkah, selalu diingatkan sebagai ibadah untuk memenuhi amanah, untuk melindungi anak istri sebagai titipan Tuhan yang dipercayakan pada ku, sehingga ketika aku mendapatkan rezeki, aku pun takut membelajakannya untuk sesuatu yang haram, karena sesungguhnya, apa yang aku terima ini, bukanlah milik aku semata, tetapi sesungguhnya, aku hanya sebagai sarana perantara untuk datangnya rezeki untuk anak-anak dan istriku.

Waktu aku bertugas di perwakilan, waktuku hampir habis setiap hari dalam pekerjaan. Sebagai manusia biasa, kadang kala ada kejenuhan dalam bekerja, istriku sangat menyadari hal itu. Ada saatnya aku suntuk atau istriku galau, terkadang aku tidak ingin diganggu dengan hal-hal remeh temeh dalam rumah tanggaku, maka dengan mobilku aku pergi ke tepi pantai mendengarkan suara deburan ombak dan hembusan angin laut. Mendengar kicauan burung-burung laut yang pulang kandang. Atau aku pergi menemani istriku untuk ke Redio Drive, Beverly, Century, Hollywood, Salvang, Long Beach, Santa Monica, Burbank, Santa Barbara, plaza atau mall hanya untuk window shopping. Atau ke café hanya untuk sekedar minum kopi sambil mendengarkan lagu-lagu country atau oldiest.

Kadang aku, ditugaskan keluar wilayah akreditasi untuk mengikuti rapat kerja, seminar atau konsultasi yang memakan waktu 2 atau 3 hari di Kuala Lumpur, Bangkok, Manila, Seoul, Singapore, dan di Beijing. Terkadang juga harus hadir di ibu kota propinsi di Indonesia ke Padang, Palembang, Medan dan Aceh. Aku hampir beberapa tahun tidak bertetangga dengan membuat aku kurang gaul dengan tetangga, namun ketika aku selesai tugas dari perwakilan barulah aku bersosialisasi kembali dengan tetangga, teman dan sahabat-sahabatku.

Aku bukan tidak menganjurkan istriku untuk hadir di majlis taklim ibu-ibu, atau di tempat arisan RT, tapi aku kuatir istriku pulang bercerita tentang tetangga kami, tentang bapak anu dan ibu anu, yang ketika itu, bagiku merupakan cerita yang sepele saja, dan akan sangat berharga bagi istriku dan menjadi referensi saja.

Sekarang setelah aku pensiun, ketika usiaku mulai senja, ketergantunganku pada istriku semakin besar, saat-saat aku mengerjakan kerjaan yang lebih banyak di rumah, istrilah yang mengingatkan kapan aku makan, kapan aku mau ketemu bapak A atau bapak B, karena sudah terlanjur buat janji, atau mempersiapkan apa-apa yang harus aku bawa, ketika aku akan bertemu atau rapat pertemuan di masjid atau diperkumpulan organisasi-organisasi social.

Sungguh Allah Maha Besar yang telah memberikan pendamping yang begitu baik padaku, lambat tapi pasti, istriku semakin tua, Nampak semakin cantik, hingga akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa istriku adalah perempuan yang tercantik di dunia.

 

Sumber : terinspirasi dari tulisan makin tua semakin cantik

 

Sabtu, 17 Mei 2014

Berbuat Amal Kebaikan

Sepanjang kita masih diberi kehidupan maka kita dituntut untuk selalu berbuat amal kebaikan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum, sekalipun amalan itu nampak dilakukan hanya sedikit tetapi berlangsung secara terus menerus. Allah SWT akan memberikan ganjaran pahala kepada hamba-hambanya atas amalan perbuatan yang bermanfaat bagi sesamanya.

Dalam Al Qur’an di surat Al Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Dan dalam surat Al-Ahqaf ayat 14 Allah berfirman SWT : “Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan”.

Dalam hadist nabi yang diriwayatkan Bukhari – Muslim, Nabi SAW menyebutkan bahwa : “Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Selanjutnya Nabi SAW menyebutkan “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”.

Berbuat amal kebaikan merupakan sedekah buat diri kita. Ladang amal yang paling efektif  dan ganjaran pahalanya dinilai besar adalah menyambung tali silaturakhmi, saling mengingatkan dengan sesama insan untuk perbuatan kebaikan, dan memberikan pencerahan untuk meningkatkan pengetahuan, iman dan takwa di masjid, di mushala, di majlis dzikir, di majlis ilmu, di tempat-tempat pertemuan, dan atau di forum-forum silaturakhmi.

Bravo Indonesia-ku Bravo Deplu-ku

Hari Esok tgl. 17 Agustus 2013, berarti Indonesia telah merdeka selama 68 tahun.
Aku tidak ikut ambil bagian dalam perang kemerdekaan melawan penjajah Jepang dan Belanda…..
tapi aku telah menikmati hasil dari kemerdekaan itu…

Dengan kemerdekaan itu…aku bisa berkeliling ke beberapa negara di dunia dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembankan kepadaku… juga aku bisa berkeliling ke beberapa propinsi di Indonesia dalam mengemban tugas-tugas dari unit organisasi dimana aku bekerja…

Aku dapat melihat keajaiban dunia…ka’bah, masjid nabawi, laut merah, Jeddah, kota agra, taj mahal, sungai gangga, new delhi gate, great wall, lapangan tianamen, golden gate, las vegas, death valley, jembatan sungai musi, borobudur, mesium tsunami, pantai losari, pantai kuta dan lainnya…

Terima kasih para pahlawan bangsa…tanpa perjuangan dan tanpa darahmu…aku tak mungkin bisa sampai di tom breadley, di base angkatan laut di guam, di kota Kowloon, di kota seoul, di bangkok, di sydney, di kota singa, di langkawi, di kota taiping dan jalan-jalan di bukit bintang, di hollywood, san diego, Houston, Arizona, phonix, Washington dc, di Makati, dan kota-kota lainnya..….

Aku harus bangga kepada bapak ibuku… walaupun aku hanya sebagai anak tukang sapu…tapi aku bisa bertugas ke beberapa negara di dunia..

Aku bersyukur…kesempatan itu dapat aku peroleh….
terima kasih DEPLU, terima kasih bapak2 pimpinan yang telah mempercayakan tugas2 itu kepadaku…Terima kasih semua…

Semoga Allah menerima amal baik-Mu…, dan kepada para syuhada bangsa semoga Allah menempatkan-Mu ditempat yang terpuji…Aamiin…

Dirgahayu Indonesia-Ku dan Jayalah selalu…

BRAVO INDONESIA BRAVO DEPLU….

Gempa Tsunami Aceh

Saudaraku.............
Hari ini adalah awal dari tahun hijrah 1 Muharam 1426
Berarti semalam adalah hari terakhir dari suatu perjalanan panjang ditahun hijrah  1425

Kita telah lalui sepanjang  354 hari dari tahun Qamariah
Banyak hal yang sudah kita alami dalam perjalanan yang panjang itu
Ada kesuksesan yang kita raih, ada juga kegagalan yang kita terima
Ada kebahagiaan yang kita peroleh, ada juga kekecewaan yang kita dapati
Ada rasa suka yang terluapkan dan ada pula rasa duka yang begitu mendalam,
Ia datang silih berganti tak mengenal waktu
Sungguh peristiwa itu tidak mungkin kita hindari
Sepanjang roh masih bersemi dibadan ini

Saudaraku……………
Dua bulan kemarin, yaitu dipenghujung akhir Desember 2004
Atau dalam bulan Dzulkaidah 1425 hijrah
Kita semua, tidak pernah bermimpi atau membayangkan
Bahwa musibah besar yang bernama : Tsunami akan kita saksikan disini
Di bumi Indonesia tercinta ini
Di ujung pulau tanah tercinta : Aceh,
Atau di kota yang namanya Serambi Mekkah
Dan di daerah pesisir  Sumatera Utara
Habis tersapu gelombang Tsunami yang datang bergulung-gulung
Ia datang begitu cepat sekali dan hanya dalam hitungam menit
Ratusan ribu manusia meninggal dunia menjadi korban
Ribuan manusia hilang terbenam dan terbawa arus laut
Ratusan manusia yang terluka kinipun masih ada yang tergeletak
Masih dalam rawatan dan pengobatan
Ribuan rumah hunian hancur luluh lantakan kecuali masjid dan sebuah mushalla
Ratusan juta nilai harta benda tak bisa  lagi diselamatkan
Habis tergilas air laut yang mengganas seketika itu
Apalagi binatang ternak dan puluhan hektar tanah harapan
Rusak dan hancur tiada lagi bersisa,
Semua merata diatas lumpur laut yang hitam
Semua hilang,
Semua hancur,
Semua sudah terendam lumpur
Semua tiada lagi berarti buat kehidupan
Semua telah menjadi kepingan-kepingan yang tiada berarti
Kita tak lagi berdaya
Dan kita memang tidak berdaya dalam menahan dahsyatnya air dan gelombang laut
Semua ini adalah cobaan TUHAN kepada kita
Agar kita menjadi sadar

Saudaraku…………
Jeritan tangis anak-anak yang kehilangan orang tua
Jeritan mengharu perempuan-perempuan yang kehilangan suami, kini mereka menjadi janda
Dan kesedihan para  suami  yang kehilangan isteri serta anaknya
Saudara kandung dan saudara sepupu tidak lagi bersama
Mereka mati dan sebagian karam tiada wujud
Nampak, semua begitu cepat sekali, ia terjadi bagaikan sebuah mimpi
Mimpi yang menjadi kenangan luka dan duka, yang akan selalu membekas begitu mendalam dihati
Kita sebagai mahluk Tuhan yang sombong dan angkuh
Sewaktu peristiwa terjadi tidak mempunyai kekuatan apa-apa
Kini hanya pasrah dan  berdo’a memohon ampun kepada-NYA
Agar bencana itu tidak lagi kembali
Kini kita harus kembali membangun sebuah kehancuran
Kita bangun dengan doa, ketabahan, kekuatan dan modal
Namun, Yang utama adalah membangun perasaan kemanusiaan

Saudaraku………..
Cobalah kita lihat sejenak kebelakang
Sebelum peristiwa Tsunami itu terjadi
Muncul gempa di Alor 38 orang meninggal
168 orang luka-luka  368 bangunan hancur
Belum reda di Alor, gempa di Nabire muncul
32 orang meninggal 146 orang terluka
Ratusan rumah hancur dan terbakar
Belum reda rasa duka kita
Helikopter TNI jatuh di Magelang
14 orang tewas seketika
Korban jiwa bertambah lagi
Orang-orang tercinta yang kehilangan keluarganya
Berduka dan menangis lagi
Belum lagi reda tangisan dimata
Belum lagi kita tuntas membangun di Aceh
Datang lagi musibah berganti, muncul gempa di Palu
Satu daerah di wilayah Indonesia Bagian timur
Puluhan rumah, kantor, dan bangunan hancur
Puluhan jiwa menjadi korban
Dan ratusan orang, bahkan ribuan orang berlari mencari tempat dataran yang tinggi
Agar  selamat, agar terlindungan dan banyak berdo’a kepada Yang Maha Kuasa
Minta selamat, karena masih ingin hidup panjang ?

Saudaraku...........
Sadarkah kita, kalau musibah itu siap datang menerpa kita ?
Sadarkah kita, kalau maut selalu menghadang kita ?
Semoga ALLAH SWT senantiasa memberi selamat pada kita
Untuk diri kita, Untuk isteri-isteri kita yang cantik dan yang sangat kita sayangi,
Untuk anak-anak kita, Untuk cucu-cucu kita,
Untuk saudara kita, bapak ibu kita, nenek kakek kita,  mertua kita, teman kita dan sahabat kita dan untuk kita semua, termasuk juga untuk musuh dan saingan kita

Saudaraku............
Marilah kita renungi sejenak peristiwa itu
Marilah kita berbicara jujur pada diri kita masing-masing
Mengapa TUHAN memberi gempa di Aceh, di Nabire dan Palu ?
Mengapa TUHAN juga  memberi gempa di India, Srilanka dan Thailand ?
Dan mengapa TUHAN tidak menjadikan gempa di Korea, di Australia atau di Pakistan ?
Tapi justru di daerah-daerah yang TUHAN pilih sendiri tempatnya !
Sadarkah kita bahwa daerah-daerah itu adalah pusat-pusat konflik kemanusiaan
Sadarkah kita bahwa daerah-daerah itu yang menjadi ujian TUHAN
Selama ini terkesan, Polisi dan TNI tidak berdaya bila beroperasi di daerah konflik itu Semua terhadang dengan istilah HAM dan demokrasi
Polisi  sebagai penegak keamanan dalam negeri,
Dan TNI sebagai penjaga teritorial NKRI
Seolah-olah tak berdaya menangkis dengungan HAM dan demokrasi
Para LSM, dan para Pejuang HAM dan demokrasi yang ingin menjadi pahlawan
Serta  mereka orang-orang yang sok mengagungkan HAM dan Demokrasi,
Yang ingin hidup sendiri dan memisahkan dari NKRI
Kali ini hanya menggigit jari,
Kali ini hanya menelan ludah kekecewaan
Karena kini,  kehendak TUHAN telah terjadi, dan benar-benar menjadi bukti
Mungkinkan ini sebuah azab ataukah sebuah peringatan bagi mereka
Atau bagi kita semua ?
Biarlah kehendak TUHAN yang menjadi bukti
Semoga TUHAN membukakan mata dan hati nurani ?

Saudaraku...........
Ditahun baru hijrah ini, Yang kini memasuki tahun ke 26 dari abad ke 15 hijrah ini
Marilah kita songsong hari-hari yang masih panjang didepan kita
Marilah kita isi hari-hari itu dengan pekerjaan-pekerjaan yang diridhoi TUHAN
Jangan kita membuat kerusakan dimuka bumi ini, Jangan kita menjadi perusuh
Apalagi pembuat onar dan pengadu domba
Kita bangun NKRI tercinta ini dengan tangan-tangan kita
Kita wujudkan Indonesia Bersatu yang lebih aman dan sejahtera
Karena harapan besar menunggu di depan sana  yang akan membawa kebahagiaan
Jangan lagi ada perselisihan paham diantara kita,
Sudah banyak korban nyawa yang tidak berguna mati sia-sia

Saudaraku..................
Kita akan berkejaran dalam waktu mencapai yang kita tuju
Adakah kawan yang akan kita bawa berpacu ?
Sekarang, sedikit teman atau kawan yang menjadi sahabat
Kawan kita memang sahabat kita, tapi juga musuh kita yang tersembunyi
Tidak semua kawan menjadi teman dan tidak semua teman menjadi sahabat
Terkadang teman seiring perjalanan bisa jadi ancaman
Terkadang pula teman sebelah kamar atau sepinggir meja menjadi lawan
Karena kedudukan, pangkat dan jabatan
Begitu juga isteri, anak dan saudara kita, terkadang menjadi ujian dan fitnah bagi kita
Padahal ia begitu dekat dengan kita, tapi, terkadang ada juga ia tega membunuh kita
Namun dengan kasih sayang ini,  kedamaian dan kebahagian itu dapat diwujudkan
Kita tebarkan salam dan senyuman buat semua orang
Kita jabat tangan-tangan disekeliling kita ini dengan hati yang damai
Semoga kita arif dalam meraih masa depan.
 

Noumea, Akhir Desember 2004