Sabtu, 26 Juli 2014
Minggu, 22 Juni 2014
Menganggap Orang Lain Bodoh
Jika kita telah pensiun, dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang kita
sudah mengenalnya sejak muda, janganlah kita merasa dan menganggap bahwa diri
kita itu orang yang paling pintar, paling tahu, paling mengerti, dan paling
menguasai permasalahan, sehingga menganggap semua orang yang kita kenal itu
berada dibawah kita.
Padahal, belum tentu pengetahuan yang kita miliki itu berada diatas pengetahuan mereka. Walaupun kita pernah sebagai mantan pejabat, banyak teman-teman pejabat, dekat dengan penguasa dan orang-orang penting, apalagi pernah keluar negeri, maka kita merasa bahwa posisi kita diatas mereka. Sehingga sikap yang keluar dari diri kita adalah kesombongan, keangkuhan, kecongkakan, ujub, ghuluw, meminta orang lain agar memberi penghormatan, meminta orang lain agar memberi sanjungan, dan menganggap semua orang yang berada dilingkungannya, berada dibawahnya, dan semua bisa didikte.
Jika diantara orang-orang yang dianggap bodoh bersatu, dan membiarkan atau mengacuhkan kepongahan kita, maka harga diri kita telah jatuh dan kita tidak lagi punya teman, kawan atau sahabat. Masyarakat mulai menilai, atas perilaku dan kelakuan yang kita perbuat terhadap mereka, dan mereka mulai mengkritisi apa yang pernah kita ucapkan, maka semua orang akan mencibirkan kita, mencemoohkan kita, dan mengasingkan kita dari lingkungan yang selama ini kita anggap mereka dibawah kita. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk meng-aktualisasi diri atas pengetahuannya, sikapnya, dan perilakunya agar tidak dikatakan bodoh atau kurang pendidikan. Sementara kita terbuai dalam mimpi-mimpi indah dan angan-angan yang tinggi agar semua orang selalu menghormati dan melayani kita. Tapi yang kita peroleh hasilnya adalah sebuah kekecewaan, kegalauan, dan diasingkan oleh lingkungan masyarakat yang justru kita buat sendiri.
Padahal, belum tentu pengetahuan yang kita miliki itu berada diatas pengetahuan mereka. Walaupun kita pernah sebagai mantan pejabat, banyak teman-teman pejabat, dekat dengan penguasa dan orang-orang penting, apalagi pernah keluar negeri, maka kita merasa bahwa posisi kita diatas mereka. Sehingga sikap yang keluar dari diri kita adalah kesombongan, keangkuhan, kecongkakan, ujub, ghuluw, meminta orang lain agar memberi penghormatan, meminta orang lain agar memberi sanjungan, dan menganggap semua orang yang berada dilingkungannya, berada dibawahnya, dan semua bisa didikte.
Jika diantara orang-orang yang dianggap bodoh bersatu, dan membiarkan atau mengacuhkan kepongahan kita, maka harga diri kita telah jatuh dan kita tidak lagi punya teman, kawan atau sahabat. Masyarakat mulai menilai, atas perilaku dan kelakuan yang kita perbuat terhadap mereka, dan mereka mulai mengkritisi apa yang pernah kita ucapkan, maka semua orang akan mencibirkan kita, mencemoohkan kita, dan mengasingkan kita dari lingkungan yang selama ini kita anggap mereka dibawah kita. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk meng-aktualisasi diri atas pengetahuannya, sikapnya, dan perilakunya agar tidak dikatakan bodoh atau kurang pendidikan. Sementara kita terbuai dalam mimpi-mimpi indah dan angan-angan yang tinggi agar semua orang selalu menghormati dan melayani kita. Tapi yang kita peroleh hasilnya adalah sebuah kekecewaan, kegalauan, dan diasingkan oleh lingkungan masyarakat yang justru kita buat sendiri.
Salah Satu Ciri Orang Munafik Suka Iri dan Dengki
Orang bijak bilang :
“Dalam kehidupan dimasyarakat yang majemuk banyak orang yang suka memakai topeng untuk menutupi dirinya agar orang lain menilai bahwa apa yang ia lakukan, atau yang ia kerjakan dalam kegiatannya sehari-hari ingin nampak baik, berbuat baik, suci, jujur, alim, tidak suka bohong, tidak suka menipu, tidak suka memfitnah, tidak suka memprovokasi, mencari-cari kesalahan orang lain, atau tidak suka menceriterakan keburukan orang lain. Kalau berbicara layaknya lemah lembut ingin didengar, atau kalau menasehati hendaknya apa yang keluar dari mulutnya dituruti. Kalau bergaul dalam masyarakat lingkungannya sepertinya dialah orang yang paling tahu segalanya. Semua upaya dilakukannya dengan mengemas tuturkata dan tingkah lakunya yang seolah-olah itulah karakternya atau pribadinya.
Orang-orang ini sebenarnya menyembunyikan topengnya dibalik kebusukan hatinya bahwa apa yang diperbuatnya seolah merupakan kebaikan. Padahal apabila ia menyadari akan perbuatannya, ia akan merasa malu dan takut akan mendapat ancaman dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya yang disebut dalam Qur’an di surat Al Munafikun ayat 4.
Orang-orang ini sebenarnya tahu bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT di dalam Qur’an di surat An Nisa ayat 145. Namun, karena ketidak-senangannya kepada orang lain, atau karena kebenciannya pada seseorang, maka ancaman tersebut terlupakan oleh hawa nafsunya.
Orang-orang ini sebenarnya menyembunyikan topengnya dibalik kebusukan hatinya bahwa apa yang diperbuatnya seolah merupakan kebaikan. Padahal apabila ia menyadari akan perbuatannya, ia akan merasa malu dan takut akan mendapat ancaman dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya yang disebut dalam Qur’an di surat Al Munafikun ayat 4.
Bagi orang-orang yang mempunyai sifat iri dan dengki, apabila ada seseorang yang mempunyai konsep, proposal, atau idea untuk kegiatan perbuatan baik bagi banyak orang, segera dipotongnya, dan bahkan dijegalnya. Orang-orang yang mempunyai karakter seperti ini sama sekali tidak senang atau tidak suka untuk mendukungnya, apalagi memberikan apresiasi atas prestasi yang dicapainya. Padahal apa yang dilakukan seseorang itu hanya untuk mewujudkan keinginannya bagi kepentingan orang banyak seperti menjadi sponsor untuk kerja bakti kebersihan lingkungan, mengadakan ceramah agama dalam upaya membuka wawasan pemahaman agama, mengadakan pencerahan umum mengenai sesuatu masalah, mensponsori kegiatan sunatan masal, mengadakan bakti sosial kesehatan gratis, meningkatkan pendidikan masyarakat, dan atau menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan umum.
Orang-orang yang tidak suka akan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain itu akan mengatakan bahwa apa yang diperbuat orang lain itu adalah semata-mata untuk mencari ketenaran, mencari keuntungan pribadi dengan berkedok kepada kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak, dan atau untuk mencari dukungan massa bagi kepentingan pribadinya dalam berkiprah dimasyarakat. Semua kegiatan baik itu, oleh orang-orang yang tidak suka, hanya dipandang sebelah mata saja. Ia mengatakan kepada orang-orang yang ada disekelilingnya bahwa ia mampu untuk berbuat seperti itu. Maka timbulah didalam hatinya rasa kesombongannya, kepongahannya, keangkuhannya, dan arogansinya. Iapun memandang rendah kepada semua orang yang ada dibawahnya atau yang ada disekelilingnya.
Orang-orang seperti ini sebenarnya lupa bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT sesuai firman-Nya sebagaimana disebut dalam Qur’an di surat Al Baqarah ayat 10.
Di sisi lain, sebagian orang yang suka iri dan dengki tidak senang melihat kegiatan kebaikan itu terlaksana. Mereka berusaha untuk menghasut orang lain agar memboikot kegiatan dengan menyebar fitnah untuk menjegal kegiatan yang bersifat kebaikan itu batal dilaksanakan, atau tidak terwujudkan. Sementara itu ia tersenyum dan menepuk dada melihat usahanya untuk memprovokasi orang-orang lain itu berhasil. Karena memang ia tidak senang kalau kegiatan kebaikan yang dilakukan orang lain itu berhasil dilaksanakan. Ia merasa panas hatinya, ia merasa kecewa, karena ia merasa dilewatkan oleh orang lain. Sehingga iapun berusaha mencari kawan atau teman yang seprofesi untuk menggagalkan kegiatan yang dilakukan seseorang itu dengan seolah-olah menjadi pendukungnya. Padahal ia berusaha dengan membuat strategi jahatnya untuk menjatuhkan atau menghancurkan program dan kegiatan seseorang. Ia akan senang melihat kegagalan orang lain. Ia akan tersenyum atas keberhasilan menjegal orang lain, dan Iapun akan bahagia atas keberhasilannya dalam menggagal misi, tugas atau pekerjaan orang lain.Orang-orang ini sebenarnya tahu bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT di dalam Qur’an di surat An Nisa ayat 145. Namun, karena ketidak-senangannya kepada orang lain, atau karena kebenciannya pada seseorang, maka ancaman tersebut terlupakan oleh hawa nafsunya.
Sebagian yang lain yaitu orang-orang yang tidak ber-su’udzon kepada seseorang menilai bahwa seharusnya memberikan apresiasi dan dukungan atas usaha dan upaya yang dilakukan itu. Sesuai proposal atau konsep yang disusun dimana telah jelas tujuannya, maka kegiatan itu diprogramkan untuk kemaslahatan umum untuk berbuat kebaikan bagi banyak orang tanpa pamrih, tanpa mengharap gaji, dan tanpa mencari keuntungan bagi dirinya. Kegiatan yang dilakukan itu semata-mata hanya untuk kepentingan orang banyak. Orang-orang yang ikhlas dan berhusnudzon ini akan selalu memberikan dukungan dan apresiasinya bagi kegiatan yang berdampak pada perbuatan baik. Karena perbuatan baik itu merupakan investasi pahala buat amalan masa depan, sehingga semua perbuatan baik itu selalu didukungnya.
Bagi orang-orang yang ikhlas dan suka mendukung kegiatan baik untuk orang banyak, mereka akan diberi ganjaran pahala, sebagaimana firman Allas SWT dalam Qur’an di surat Al Isra ayat 37.
Dalam perjalanan waktu, perbuatan baik untuk kemaslahatan umum dan bagi kepentingan orang banyak itu terwujud, walaupun banyak tantangan, dan kritikan dalam upaya melaksanakan kegiatannya itu. Karena niat misi-nya itu semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka orang-orang yang mempunyai hati bersih tetap mendukungnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan”. (Hadits diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu).
Inilah acuan yang dijadikan pegangan bagi orang-orang yang suka berbuat kebaikan, walaupun banyak orang yang tidak suka. Dari banyak orang yang tidak suka, namun masih ada orang-orang disekitarnya yang mendukungnya, maka kegiatan kebaikan itu dapat berjalan.
Sungguh kita semua ini diingatkan, kalaulah memang kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan bagi banyak orang, janganlah kita suka menjegalnya, memboikot, dan menyebarkan fitnah. Berilah dukungan dan apresiasi kepada seseorang yang memang mampu untuk mengorganisir suatu kegiatan. Janganlah kita menjadi provokator, motivator, atau inisiator untuk menggagalkan program kegiatan seseorang yang dinilai orang banyak sangat bermanfaat. Inilah salah satu ciri orang-orang munafik yang ada disekitar kita yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Waspadalah”.Jangan Suka Memprovokasi Orang Lain
Orang
bijak bilang :
“Kenapa orang
suka mengeritik, menjelekan, mendiskreditkan dan memfitnah seseorang, apabila
melihat orang lain berbuat kebaikan, sementara kita tidak dapat melakukan
apa-apa. Padahal perbuatan kebaikan yang dilakukan seseorang itu sama sekali
tidak merugikan kita, bahkan kegiatan itu dapat membuat orang lain ikut
memperoleh keuntungan berupa amal kebajikan sebagai investasi pahala yang
dikumpulkan untuk bekal dimasa datang buat kehidupan kita. Karena itu,
janganlah kita suka memprovokasi mengajak orang lain untuk membeci seseorang yang
tidak kita sukai agar orang lain juga turut membencinya. Janganlah kita suka
meremehkan orang lain atas kemampuannya untuk berbuat kebaikan bagi
kemaslahatan umum, sementara kita tidak mampu untuk melakukannya. Seharusnya
kita mendukung, mensupportnya dan memberikan apresiasi kepadanya. Jika kita
suka mengeritiknya dan kebencian yang kita perlihatkan, maka itulah salah satu
ciri dari kemunafikan kita yang kita tonjolkan kepada orang lain”.
Orang
bijak bilang :
Selasa, 27 Mei 2014
Istriku Makin Tua Semakin Cantik
Kalau
ada orang yang bertanya kepadaku, siapakah wanita paling cantik saat ini di
dunia, maka aku akan menjawabnya, istrikulah orang yang paling cantik di dunia
ini. Walaupun banyak wanita cantik dikalangan selebrity dunia seperti Kate Winslet,
Vanessa Williams, Felicity
Huffman,
Gwyneth Paltrow, Jennifer
Aniston,
Cindy Crawford, Halle Berry, Oprah Winfrey, Demi Moore,
dan Sarah Jessica Parker tidak menjadi perhatianku.
Dulupun
demikian, walaupun Hemma Malini, Ayesha Takia, Susanne Roshan, Sofia Latjuba, Ayu
Soraya, Ayu Azhari, Betharia Sonatha, Christin Panjaitan, Diane Keaton, Meryl Streep, Helen Mirren, cantik, aku pilih perempuan dari
Cipinang Kebembem V 12B menjadi istriku, karena dialah perempuan yang aku pilih dari
sebanyak 3 milyar perempuan yang ada pada saat itu. Dialah perempuan yang kini menjadi
ibu dari anak-anaku dan eyang putri dari cucu-cucuku.
Saat
ini, setelah perjalanan mengayuh bahtera rumah tangga selama 33 tahun, istriku
semakin bertambah umurnya, dan aku sering melihat sekilas sudah ada kerutan didahinya
dan warna rambutnyapun telah mulai ada yang beda berwarna keputih-putihan. Namun
aku bangga karena kerutan dan warna rambut itu terjadi bersama dalam perjalanan
hidupku.
Aku
telah menjadi orang pensiunan yang kini telah terpinggirkan dari lingkungan
organisasi kerja. Aku banyak dirumah, membaca, mendengarkan music, menulis, da nada juga
waktu nganggur, dialah yang setia mendampingi diriku. Walau kadang-kadang aku
harus pergi keluar rumah untuk memenuhi undangan pengajian, atau undangan rapat
dari organisasi yang aku berada didalamnya. Aku selalu bersama istriku kala ada
undangan pesta pernikahan dari teman atau sahabatku.
Aku
merasa sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, aku
sudah tidak memiliki paspor hitam lagi, dan aku sudah tidak punya jabatan lagi,
namun istriku selalu setia mendampingi diriku, menerima keadaanku dalam
keikhlasan dan pengabdiannya dalam menjalani hari-hari panjang yang tidak
pernah aku tahu kapan perjalanan ini akan berhenti.
Aku
senantiasa mendo’akan istriku agar ia selalu sehat dalam mendampingi
perjalananku, dan aku selalu memperhatikan istriku walau kini telah bertambah
usianya. Perasaan ini datang secara perlahan tapi pasti.
Awal
pernikahanku, aku tahu istrikulah yang cantik, atau yang tercantik,
itu
pasti, karena aku telah memilihnya. Aku masih muda ketika itu, aku masih aktif
dalam pekerjaanku, aku selalu banyak tugas yang dibebankan pimpinanku, sehingga
aku harus pergi pagi pulang larut malam. Bahkan hari-hari liburkupun tersita
oleh tugas pekerjaan dan kegiatan itu hampir setiap hari tiada henti.
Dalam
perjalananku pulang, di luar rumah, aku melihat banyak wanita-wanita cantik,
sama seperti istriku, bahkan lebih cantik. Namun aku tidak pernah peduli,
sehingga perempuan cantik lainnya tidak menjadi perhatianku. Aku telah memilih
istriku yang setia mendampingi diriku.
Dan
aku ingin cepat sampai dirumah karena ia sedari pagi telah kutinggalkan dirumah
seorang diri. Ia mengurusi anak-anak, mencuci, menstrika, cuci piring, memasak
dan membersihkan rumah dari pagi sampai malam hari.
Waktu
terus berlalu, kujalani bersamanya dalam suka dan duka. Tidak terasa perjalanan itu membawa kami menuju pada usia
yang makin tua. Kini, kami memasuki usia senja, tetapi dimataku, istriku
semakin kemari, semakin tua, tapi semakin cantik saja, sehingga aku sampai pada
kesimpulan, istriku ternyata wanita tercantik di dunia.
Bagaimana
aku sampai pada kesimpulan itu, itulah yang ingin aku bagi pada
teman-teman dan sahabat semua.
Istriku
menganggapku sebagai bagian dari dirinya, ketika aku jatuh sakit, aku dibawanya
kerumah sakit, ditunggui siang dan malam. Dia begitu perhatian kepadaku, aku
begitu dicintainya, dibelai dan dikasihinya. Selama aku dirawat ia tidak pernah
lepas dalam berdo’a. Meskipun apa yang telah aku terima, begitu juga yang telah
aku berikan padanya, tetapi yang aku terima itu, perlahan-perlahan membuat aku
semakin mabuk untuk hanya tertumpu pada satu titik. Dialah istriku, tak ada
kemungkinan yang lain.
Istriku
tidak menganggap aku sebagai penanggung jawab bagi kebutuhan materi yang kami
sangat butuhkan ketika muda dulu, tetapi kepergianku mencari nafkah, selalu
diingatkan sebagai ibadah untuk memenuhi amanah, untuk melindungi anak istri
sebagai titipan Tuhan yang dipercayakan pada ku, sehingga ketika aku
mendapatkan rezeki, aku pun takut membelajakannya untuk sesuatu yang haram,
karena sesungguhnya, apa yang aku terima ini, bukanlah milik aku semata, tetapi
sesungguhnya, aku hanya sebagai sarana perantara untuk datangnya rezeki untuk
anak-anak dan istriku.
Waktu
aku bertugas di perwakilan, waktuku hampir habis setiap hari dalam pekerjaan. Sebagai
manusia biasa, kadang kala ada kejenuhan dalam bekerja, istriku sangat
menyadari hal itu. Ada saatnya aku suntuk atau istriku galau, terkadang aku tidak
ingin diganggu dengan hal-hal remeh temeh dalam rumah tanggaku, maka dengan
mobilku aku pergi ke tepi pantai mendengarkan suara deburan ombak dan hembusan
angin laut. Mendengar kicauan burung-burung laut yang pulang kandang. Atau aku
pergi menemani istriku untuk ke Redio Drive, Beverly, Century, Hollywood,
Salvang, Long Beach, Santa Monica, Burbank, Santa Barbara, plaza atau mall
hanya untuk window shopping. Atau ke café hanya untuk sekedar minum kopi sambil
mendengarkan lagu-lagu country atau oldiest.
Kadang
aku, ditugaskan keluar wilayah akreditasi untuk mengikuti rapat kerja, seminar
atau konsultasi yang memakan waktu 2 atau 3 hari di Kuala Lumpur, Bangkok,
Manila, Seoul, Singapore, dan di Beijing. Terkadang juga harus hadir di ibu kota
propinsi di Indonesia ke Padang, Palembang, Medan dan Aceh. Aku hampir beberapa
tahun tidak bertetangga dengan membuat aku kurang gaul dengan tetangga, namun ketika
aku selesai tugas dari perwakilan barulah aku bersosialisasi kembali dengan
tetangga, teman dan sahabat-sahabatku.
Aku
bukan tidak menganjurkan istriku untuk hadir di majlis taklim ibu-ibu, atau di
tempat arisan RT, tapi aku kuatir istriku pulang bercerita tentang tetangga
kami, tentang bapak anu dan ibu anu, yang ketika itu, bagiku merupakan cerita
yang sepele saja, dan akan sangat berharga bagi istriku dan menjadi referensi saja.
Sekarang
setelah aku pensiun, ketika usiaku mulai senja, ketergantunganku pada istriku
semakin besar, saat-saat aku mengerjakan kerjaan yang lebih banyak di rumah,
istrilah yang mengingatkan kapan aku makan, kapan aku mau ketemu bapak A atau
bapak B, karena sudah terlanjur buat janji, atau mempersiapkan apa-apa yang
harus aku bawa, ketika aku akan bertemu atau rapat pertemuan di masjid atau
diperkumpulan organisasi-organisasi social.
Sungguh
Allah Maha Besar yang telah memberikan pendamping yang begitu baik padaku,
lambat tapi pasti, istriku semakin tua, Nampak semakin cantik, hingga akhirnya aku
sampai pada kesimpulan, bahwa istriku adalah perempuan yang tercantik di dunia.
Sumber
: terinspirasi dari tulisan makin tua semakin cantik
Sabtu, 17 Mei 2014
Berbuat Amal Kebaikan
Sepanjang kita masih diberi kehidupan maka kita dituntut
untuk selalu berbuat amal kebaikan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum,
sekalipun amalan itu nampak dilakukan hanya sedikit tetapi berlangsung secara
terus menerus. Allah SWT akan memberikan ganjaran pahala kepada hamba-hambanya
atas amalan perbuatan yang bermanfaat bagi sesamanya.
Dalam Al Qur’an di surat Al Maidah ayat 2 Allah SWT
berfirman : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Dan dalam surat Al-Ahqaf ayat 14 Allah
berfirman SWT : “Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya;
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan”.
Dalam hadist nabi yang diriwayatkan Bukhari – Muslim,
Nabi SAW menyebutkan bahwa : “Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu
tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa
yang ia niatkan”. Selanjutnya Nabi
SAW menyebutkan “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga
perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang
sholeh”.
Berbuat amal kebaikan merupakan sedekah buat diri kita. Ladang
amal yang paling efektif dan ganjaran
pahalanya dinilai besar adalah menyambung tali silaturakhmi, saling
mengingatkan dengan sesama insan untuk perbuatan kebaikan, dan memberikan
pencerahan untuk meningkatkan pengetahuan, iman dan takwa di masjid, di
mushala, di majlis dzikir, di majlis ilmu, di tempat-tempat pertemuan, dan atau
di forum-forum silaturakhmi.
Bravo Indonesia-ku Bravo Deplu-ku
Hari Esok tgl. 17 Agustus 2013, berarti Indonesia telah
merdeka selama 68 tahun.
Aku tidak ikut ambil bagian dalam perang kemerdekaan
melawan penjajah Jepang dan Belanda…..
tapi aku telah menikmati hasil dari kemerdekaan itu…
Dengan kemerdekaan itu…aku bisa berkeliling ke beberapa
negara di dunia dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembankan kepadaku… juga aku
bisa berkeliling ke beberapa propinsi di Indonesia dalam mengemban tugas-tugas
dari unit organisasi dimana aku bekerja…
Aku dapat melihat keajaiban dunia…ka’bah, masjid
nabawi, laut merah, Jeddah, kota agra, taj mahal, sungai gangga, new delhi
gate, great wall, lapangan tianamen, golden gate, las vegas, death valley, jembatan
sungai musi, borobudur, mesium tsunami, pantai losari, pantai kuta dan lainnya…
Terima kasih para pahlawan bangsa…tanpa perjuangan dan
tanpa darahmu…aku tak mungkin bisa sampai di tom breadley, di base angkatan
laut di guam, di kota Kowloon, di kota seoul, di bangkok, di sydney, di kota
singa, di langkawi, di kota taiping dan jalan-jalan di bukit bintang, di
hollywood, san diego, Houston, Arizona, phonix, Washington dc, di Makati, dan
kota-kota lainnya..….
Aku harus bangga kepada bapak ibuku… walaupun aku hanya
sebagai anak tukang sapu…tapi aku bisa bertugas ke beberapa negara di dunia..
Aku bersyukur…kesempatan itu dapat aku peroleh….
terima kasih DEPLU, terima kasih bapak2 pimpinan yang
telah mempercayakan tugas2 itu kepadaku…Terima kasih semua…
Semoga Allah menerima amal baik-Mu…, dan kepada para
syuhada bangsa semoga Allah menempatkan-Mu ditempat yang terpuji…Aamiin…
Dirgahayu Indonesia-Ku dan Jayalah selalu…
BRAVO INDONESIA BRAVO DEPLU….
Langganan:
Postingan (Atom)