Minggu, 26 Oktober 2014

Yang Terpilih Menjadi Pimpinan


Orang-orang hebat adalah orang-orang  yang pada saat pemilihan menteri, wamen, dirjen, atau duta besar dia tidak merasa sakit hati, kecewa, atau prustasi karena tidak terpilih oleh presiden untuk menduduki jabatan tersebut. Ia melihatnya sebagai kebaikan karena saat ini tidak terpilih menjadi menteri untuk memimpin suatu departemen. Sekalipun namanya telah mencuat dan beredar di kalangan masyarakat dan menjadi bahan pergujingan diantara lingkungan pertemanannya.  Ia tidak merasa malu, kecil hati, atau menarik diri dari lingkungannya karena namanya tidak terpilih.

 Namun ada diantara mereka karena tidak terpilih menjadi pimpinan kemudian mereka membentuk kelompok tertentu menjadi rivalnya dan membuat oposisi. Bahkan dengan sengaja membuat keonaran, memprovokasi, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang destruktif. Atau membayar oknum-oknum tertentu untuk sengaja melakukan penjegalan atas kebijakan yang telah ditetapkan presiden atau pembuat keputusan.

Orang-orang yang mempunyai hati nurani, arif, dan selalu berprasangka baik, apabila namanya tidak terpilih untuk menjadi pimpinan suatu organisasi kementerian atau lembaga, ia segera bermuhasabah bahwa barangkali Allah memang belum memberikan kepercayaan kepadanya. Mereka beristighfar dan memuji kebesaran Allah, serta mendo’akan kepada teman-temannya yang terpilih itu agar dalam melaksanakan program pemerintah yang diembannya itu berjalan lancar dan sukses. Ia tidak merasa sakit hati, tersisihkan, atau tereliminasi dari lingkungannya, tetapi berkomitmen mendukung program dan kebijakan temannya itu yang kini menjadi pimpinannya itu.

Dalam satu riwayat pernah Nabi SAW menasihati seorang sahabat Abdurrahman bin Samurah r.a yang berkaitan dengan jabatan :  “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah Ta'ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setiap orang dipastikan mempunyai ambisi untuk menjadi seorang pemimpin. Karena menjadi pemimpin disuatu organisasi departemen, lembaga atau institusi memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya antara lain ingin menjadi populer, ingin menjadi terkenal, ingin mendapat penghormatan dari orang lain, merasa kedudukan atau status sosialnya yang tinggi, menyombongkan diri dan ingin dipuji, dapat memerintah dan menguasai, dapat menambah harta kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

Islam tidak pernah sembarangan dalam memilih seorang pemimpin atau penguasa, apalagi seseorang yang datang menyodorkan dirinya untuk diangkat menjadi seorang pemimpin. Hadits di atas menunjukkan, petunjuk dari Nabi SAW kepada ummatnya agar tidak meminta-minta untuk menjadi pemimpin, penguasa atau pejabat. Karena menjadi pemimpin itu adalah pemegang amanah. Ia harus menjalankan amanah itu sebagaimana mestinya.

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya” (Al hadist). “Tiap-tiap diri bertangung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” ( QS Al-Mudatstsi : 38). “Dan tidak lah seorang membuat dosa melainkan kemudhratannya kembali kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS Al- Anam :164). “Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan” (QS Yasin : 12). Menjadi pemimpin di level apapun maka Allah akan meminta pertanggungjawabannya diakherat kelak. Akankah kita akan menjadi pemimpin yang amanah?.

Orang-orang yang terpilih atau dipilih untuk menjadi pemimpin adalah orang-orang yang dinilai dapat menjalankan amanah, cakap, mempunyai integritas, jujur, bersih, komitmen dan profesional dalam profesinya. Tidak berniat untuk menjadi seorang KORUPTOR atau memperkaya diri, tetapi mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman, sejahtera, adil dengan berpedoman kepada  Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

 

Minggu, 22 Juni 2014

Menganggap Orang Lain Bodoh

Jika kita telah pensiun, dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang kita sudah mengenalnya sejak muda, janganlah kita merasa dan menganggap bahwa diri kita itu orang yang paling pintar, paling tahu, paling mengerti, dan paling menguasai permasalahan, sehingga menganggap semua orang yang kita kenal itu berada dibawah kita.

Padahal, belum tentu pengetahuan yang kita miliki  itu berada diatas pengetahuan mereka. Walaupun kita pernah sebagai mantan pejabat, banyak teman-teman pejabat, dekat dengan penguasa dan orang-orang penting, apalagi pernah keluar negeri, maka kita merasa bahwa posisi kita diatas mereka. Sehingga sikap yang keluar dari diri kita adalah kesombongan, keangkuhan, kecongkakan, ujub, ghuluw, meminta orang lain agar memberi penghormatan, meminta orang lain agar memberi sanjungan, dan menganggap semua orang yang berada dilingkungannya, berada dibawahnya, dan semua bisa didikte.

Jika diantara orang-orang yang dianggap bodoh bersatu, dan membiarkan atau mengacuhkan kepongahan kita, maka harga diri kita telah jatuh dan kita tidak lagi punya teman, kawan atau sahabat. Masyarakat mulai menilai, atas perilaku dan kelakuan yang kita perbuat terhadap mereka, dan mereka mulai mengkritisi apa yang pernah kita ucapkan, maka semua orang akan mencibirkan kita, mencemoohkan kita, dan mengasingkan kita dari lingkungan yang selama ini kita anggap mereka dibawah kita. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk meng-aktualisasi diri atas pengetahuannya, sikapnya, dan perilakunya agar tidak dikatakan bodoh atau kurang pendidikan. Sementara kita terbuai dalam mimpi-mimpi indah dan angan-angan yang tinggi agar semua orang selalu menghormati dan melayani kita. Tapi yang kita peroleh hasilnya adalah sebuah kekecewaan, kegalauan, dan diasingkan oleh lingkungan masyarakat yang justru kita buat sendiri.

 

 

Salah Satu Ciri Orang Munafik Suka Iri dan Dengki

Orang bijak bilang :

“Dalam kehidupan dimasyarakat yang majemuk banyak orang yang suka memakai topeng untuk menutupi dirinya agar orang lain menilai bahwa apa yang ia lakukan, atau yang ia kerjakan dalam kegiatannya sehari-hari ingin nampak baik, berbuat baik, suci, jujur, alim, tidak suka bohong, tidak suka menipu, tidak suka memfitnah, tidak suka memprovokasi, mencari-cari kesalahan orang lain, atau tidak suka menceriterakan keburukan orang lain. Kalau berbicara layaknya lemah lembut ingin didengar, atau kalau menasehati hendaknya apa yang keluar dari mulutnya dituruti. Kalau bergaul dalam masyarakat lingkungannya sepertinya dialah orang yang paling tahu segalanya. Semua upaya dilakukannya dengan mengemas tuturkata dan tingkah lakunya yang seolah-olah itulah karakternya atau pribadinya.
Orang-orang ini sebenarnya menyembunyikan topengnya dibalik kebusukan hatinya bahwa apa yang diperbuatnya seolah merupakan kebaikan. Padahal apabila ia menyadari akan perbuatannya, ia akan merasa malu dan takut akan mendapat ancaman dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya yang disebut dalam Qur’an di surat Al Munafikun ayat 4.

Bagi orang-orang yang mempunyai sifat iri dan dengki, apabila ada seseorang yang mempunyai konsep, proposal, atau idea untuk kegiatan perbuatan baik bagi banyak orang, segera dipotongnya, dan bahkan dijegalnya. Orang-orang yang mempunyai karakter seperti ini sama sekali tidak senang atau tidak suka untuk mendukungnya, apalagi memberikan apresiasi atas prestasi yang dicapainya. Padahal apa yang dilakukan seseorang itu hanya untuk mewujudkan keinginannya bagi kepentingan orang banyak seperti menjadi sponsor untuk kerja bakti kebersihan lingkungan, mengadakan ceramah agama dalam upaya membuka wawasan pemahaman agama, mengadakan pencerahan umum mengenai sesuatu masalah, mensponsori kegiatan sunatan masal, mengadakan bakti sosial kesehatan gratis, meningkatkan pendidikan masyarakat, dan atau menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan umum.
Orang-orang yang tidak suka akan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain itu akan mengatakan bahwa apa yang diperbuat orang lain itu adalah semata-mata untuk mencari ketenaran, mencari keuntungan pribadi dengan berkedok kepada kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak, dan atau untuk mencari dukungan massa bagi kepentingan pribadinya dalam berkiprah dimasyarakat. Semua kegiatan baik itu, oleh orang-orang yang tidak suka, hanya dipandang sebelah mata saja. Ia mengatakan kepada orang-orang yang ada disekelilingnya bahwa ia mampu untuk berbuat seperti itu. Maka timbulah didalam hatinya rasa kesombongannya, kepongahannya, keangkuhannya, dan arogansinya. Iapun memandang rendah kepada semua orang yang ada dibawahnya atau yang ada disekelilingnya.

Orang-orang seperti ini sebenarnya lupa bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT sesuai firman-Nya sebagaimana disebut dalam Qur’an di surat Al Baqarah ayat 10.
Di sisi lain, sebagian orang yang suka iri dan dengki tidak senang melihat kegiatan kebaikan itu terlaksana. Mereka berusaha untuk menghasut orang lain agar memboikot kegiatan dengan menyebar fitnah untuk menjegal kegiatan yang bersifat kebaikan itu  batal dilaksanakan, atau tidak terwujudkan. Sementara itu ia tersenyum dan menepuk dada melihat usahanya untuk memprovokasi orang-orang lain itu berhasil. Karena memang ia tidak senang kalau kegiatan kebaikan yang dilakukan orang lain itu berhasil dilaksanakan. Ia merasa panas hatinya, ia merasa kecewa, karena ia merasa dilewatkan oleh orang lain. Sehingga iapun berusaha mencari kawan atau teman yang seprofesi untuk menggagalkan kegiatan yang dilakukan seseorang itu dengan seolah-olah menjadi pendukungnya. Padahal ia berusaha dengan membuat strategi jahatnya untuk menjatuhkan atau menghancurkan program dan kegiatan seseorang. Ia akan senang melihat kegagalan orang lain. Ia akan tersenyum atas keberhasilan menjegal orang lain, dan Iapun akan bahagia atas keberhasilannya dalam menggagal misi, tugas atau pekerjaan orang lain.

Orang-orang ini sebenarnya tahu bahwa apa yang diperbuatnya itu akan mendapat ancaman dari Allah SWT di dalam Qur’an di surat An Nisa ayat 145. Namun, karena ketidak-senangannya kepada orang lain, atau karena kebenciannya pada seseorang, maka ancaman tersebut terlupakan oleh hawa nafsunya.

Sebagian yang lain yaitu orang-orang yang tidak ber-su’udzon kepada seseorang menilai bahwa seharusnya memberikan apresiasi dan dukungan atas usaha dan upaya yang dilakukan itu. Sesuai proposal atau konsep yang disusun dimana telah jelas tujuannya, maka kegiatan itu diprogramkan untuk kemaslahatan umum untuk berbuat kebaikan bagi banyak orang tanpa pamrih, tanpa mengharap gaji, dan tanpa mencari keuntungan bagi dirinya. Kegiatan yang dilakukan itu semata-mata hanya untuk kepentingan orang banyak. Orang-orang yang ikhlas dan berhusnudzon ini akan selalu memberikan dukungan dan apresiasinya bagi kegiatan yang berdampak pada perbuatan baik. Karena perbuatan baik itu merupakan investasi pahala buat amalan masa depan, sehingga semua perbuatan baik itu selalu didukungnya.
Bagi orang-orang yang ikhlas dan suka mendukung kegiatan baik untuk orang banyak, mereka akan diberi ganjaran pahala, sebagaimana firman Allas SWT dalam Qur’an di surat Al Isra ayat 37.

Dalam perjalanan waktu, perbuatan baik untuk kemaslahatan umum dan  bagi kepentingan orang banyak itu terwujud, walaupun banyak tantangan, dan kritikan dalam upaya melaksanakan kegiatannya itu. Karena niat misi-nya itu semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka orang-orang yang mempunyai hati bersih tetap mendukungnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan”. (Hadits diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu).

Inilah acuan yang dijadikan pegangan bagi orang-orang yang suka berbuat kebaikan, walaupun banyak orang yang tidak suka. Dari banyak orang yang tidak suka,  namun masih ada orang-orang disekitarnya yang mendukungnya, maka kegiatan kebaikan itu dapat berjalan.
Sungguh kita semua ini diingatkan, kalaulah memang kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan bagi banyak orang, janganlah kita suka menjegalnya, memboikot, dan menyebarkan fitnah. Berilah dukungan dan apresiasi kepada seseorang yang memang mampu untuk mengorganisir suatu kegiatan. Janganlah kita menjadi provokator, motivator, atau inisiator untuk menggagalkan program kegiatan seseorang yang dinilai orang banyak sangat bermanfaat. Inilah salah satu ciri orang-orang munafik yang ada disekitar kita yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Waspadalah”.

Jangan Suka Memprovokasi Orang Lain

Orang bijak bilang :
 “Kenapa orang suka mengeritik, menjelekan, mendiskreditkan dan memfitnah seseorang, apabila melihat orang lain berbuat kebaikan, sementara kita tidak dapat melakukan apa-apa. Padahal perbuatan kebaikan yang dilakukan seseorang itu sama sekali tidak merugikan kita, bahkan kegiatan itu dapat membuat orang lain ikut memperoleh keuntungan berupa amal kebajikan sebagai investasi pahala yang dikumpulkan untuk bekal dimasa datang buat kehidupan kita. Karena itu, janganlah kita suka memprovokasi mengajak orang lain untuk membeci seseorang yang tidak kita sukai agar orang lain juga turut membencinya. Janganlah kita suka meremehkan orang lain atas kemampuannya untuk berbuat kebaikan bagi kemaslahatan umum, sementara kita tidak mampu untuk melakukannya. Seharusnya kita mendukung, mensupportnya dan memberikan apresiasi kepadanya. Jika kita suka mengeritiknya dan kebencian yang kita perlihatkan, maka itulah salah satu ciri dari kemunafikan kita yang kita tonjolkan kepada orang lain”.



 

Selasa, 27 Mei 2014

Istriku Makin Tua Semakin Cantik

Kalau ada orang yang bertanya kepadaku, siapakah wanita paling cantik saat ini di dunia, maka aku akan menjawabnya, istrikulah orang yang paling cantik di dunia ini. Walaupun banyak wanita cantik dikalangan selebrity dunia seperti Kate Winslet, Vanessa Williams, Felicity Huffman, Gwyneth Paltrow, Jennifer Aniston, Cindy Crawford, Halle Berry, Oprah Winfrey, Demi Moore, dan Sarah Jessica Parker tidak menjadi perhatianku.  

Dulupun demikian, walaupun Hemma Malini, Ayesha Takia, Susanne Roshan, Sofia Latjuba, Ayu Soraya, Ayu Azhari, Betharia Sonatha, Christin Panjaitan, Diane Keaton, Meryl Streep, Helen Mirren, cantik, aku pilih perempuan dari Cipinang Kebembem V 12B menjadi istriku, karena dialah perempuan yang aku pilih dari sebanyak 3 milyar perempuan yang ada pada saat itu. Dialah perempuan yang kini menjadi ibu dari anak-anaku dan eyang putri dari cucu-cucuku.

Saat ini, setelah perjalanan mengayuh bahtera rumah tangga selama 33 tahun, istriku semakin bertambah umurnya, dan aku sering melihat sekilas sudah ada kerutan didahinya dan warna rambutnyapun telah mulai ada yang beda berwarna keputih-putihan. Namun aku bangga karena kerutan dan warna rambut itu terjadi bersama dalam perjalanan hidupku.

Aku telah menjadi orang pensiunan yang kini telah terpinggirkan dari lingkungan organisasi kerja. Aku banyak dirumah, membaca,  mendengarkan music, menulis, da nada juga waktu nganggur, dialah yang setia mendampingi diriku. Walau kadang-kadang aku harus pergi keluar rumah untuk memenuhi undangan pengajian, atau undangan rapat dari organisasi yang aku berada didalamnya. Aku selalu bersama istriku kala ada undangan pesta pernikahan dari teman atau sahabatku.

Aku merasa sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, aku sudah tidak memiliki paspor hitam lagi, dan aku sudah tidak punya jabatan lagi, namun istriku selalu setia mendampingi diriku, menerima keadaanku dalam keikhlasan dan pengabdiannya dalam menjalani hari-hari panjang yang tidak pernah aku tahu kapan perjalanan ini akan berhenti.

Aku senantiasa mendo’akan istriku agar ia selalu sehat dalam mendampingi perjalananku, dan aku selalu memperhatikan istriku walau kini telah bertambah usianya. Perasaan ini datang secara perlahan tapi pasti.

Awal pernikahanku, aku tahu istrikulah yang cantik, atau yang tercantik,
itu pasti, karena aku telah memilihnya. Aku masih muda ketika itu, aku masih aktif dalam pekerjaanku, aku selalu banyak tugas yang dibebankan pimpinanku, sehingga aku harus pergi pagi pulang larut malam. Bahkan hari-hari liburkupun tersita oleh tugas pekerjaan dan kegiatan itu hampir setiap hari tiada henti.

Dalam perjalananku pulang, di luar rumah, aku melihat banyak wanita-wanita cantik, sama seperti istriku, bahkan lebih cantik. Namun aku tidak pernah peduli, sehingga perempuan cantik lainnya tidak menjadi perhatianku. Aku telah memilih istriku yang setia mendampingi diriku.

Dan aku ingin cepat sampai dirumah karena ia sedari pagi telah kutinggalkan dirumah seorang diri. Ia mengurusi anak-anak, mencuci, menstrika, cuci piring, memasak dan membersihkan rumah dari pagi sampai malam hari.

Waktu terus berlalu, kujalani bersamanya dalam suka dan duka. Tidak terasa perjalanan itu membawa kami menuju pada usia yang makin tua. Kini, kami memasuki usia senja, tetapi dimataku, istriku semakin kemari, semakin tua, tapi semakin cantik saja, sehingga aku sampai pada kesimpulan, istriku ternyata wanita tercantik di dunia.

Bagaimana aku  sampai pada kesimpulan itu, itulah yang ingin aku bagi pada teman-teman dan sahabat semua.

Istriku menganggapku sebagai bagian dari dirinya, ketika aku jatuh sakit, aku dibawanya kerumah sakit, ditunggui siang dan malam. Dia begitu perhatian kepadaku, aku begitu dicintainya, dibelai dan dikasihinya. Selama aku dirawat ia tidak pernah lepas dalam berdo’a. Meskipun apa yang telah aku terima, begitu juga yang telah aku berikan padanya, tetapi yang aku terima itu, perlahan-perlahan membuat aku semakin mabuk untuk hanya tertumpu pada satu titik. Dialah istriku, tak ada kemungkinan yang lain.

Istriku tidak menganggap aku sebagai penanggung jawab bagi kebutuhan materi yang kami sangat butuhkan ketika muda dulu, tetapi kepergianku mencari nafkah, selalu diingatkan sebagai ibadah untuk memenuhi amanah, untuk melindungi anak istri sebagai titipan Tuhan yang dipercayakan pada ku, sehingga ketika aku mendapatkan rezeki, aku pun takut membelajakannya untuk sesuatu yang haram, karena sesungguhnya, apa yang aku terima ini, bukanlah milik aku semata, tetapi sesungguhnya, aku hanya sebagai sarana perantara untuk datangnya rezeki untuk anak-anak dan istriku.

Waktu aku bertugas di perwakilan, waktuku hampir habis setiap hari dalam pekerjaan. Sebagai manusia biasa, kadang kala ada kejenuhan dalam bekerja, istriku sangat menyadari hal itu. Ada saatnya aku suntuk atau istriku galau, terkadang aku tidak ingin diganggu dengan hal-hal remeh temeh dalam rumah tanggaku, maka dengan mobilku aku pergi ke tepi pantai mendengarkan suara deburan ombak dan hembusan angin laut. Mendengar kicauan burung-burung laut yang pulang kandang. Atau aku pergi menemani istriku untuk ke Redio Drive, Beverly, Century, Hollywood, Salvang, Long Beach, Santa Monica, Burbank, Santa Barbara, plaza atau mall hanya untuk window shopping. Atau ke café hanya untuk sekedar minum kopi sambil mendengarkan lagu-lagu country atau oldiest.

Kadang aku, ditugaskan keluar wilayah akreditasi untuk mengikuti rapat kerja, seminar atau konsultasi yang memakan waktu 2 atau 3 hari di Kuala Lumpur, Bangkok, Manila, Seoul, Singapore, dan di Beijing. Terkadang juga harus hadir di ibu kota propinsi di Indonesia ke Padang, Palembang, Medan dan Aceh. Aku hampir beberapa tahun tidak bertetangga dengan membuat aku kurang gaul dengan tetangga, namun ketika aku selesai tugas dari perwakilan barulah aku bersosialisasi kembali dengan tetangga, teman dan sahabat-sahabatku.

Aku bukan tidak menganjurkan istriku untuk hadir di majlis taklim ibu-ibu, atau di tempat arisan RT, tapi aku kuatir istriku pulang bercerita tentang tetangga kami, tentang bapak anu dan ibu anu, yang ketika itu, bagiku merupakan cerita yang sepele saja, dan akan sangat berharga bagi istriku dan menjadi referensi saja.

Sekarang setelah aku pensiun, ketika usiaku mulai senja, ketergantunganku pada istriku semakin besar, saat-saat aku mengerjakan kerjaan yang lebih banyak di rumah, istrilah yang mengingatkan kapan aku makan, kapan aku mau ketemu bapak A atau bapak B, karena sudah terlanjur buat janji, atau mempersiapkan apa-apa yang harus aku bawa, ketika aku akan bertemu atau rapat pertemuan di masjid atau diperkumpulan organisasi-organisasi social.

Sungguh Allah Maha Besar yang telah memberikan pendamping yang begitu baik padaku, lambat tapi pasti, istriku semakin tua, Nampak semakin cantik, hingga akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa istriku adalah perempuan yang tercantik di dunia.

 

Sumber : terinspirasi dari tulisan makin tua semakin cantik

 

Sabtu, 17 Mei 2014

Berbuat Amal Kebaikan

Sepanjang kita masih diberi kehidupan maka kita dituntut untuk selalu berbuat amal kebaikan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum, sekalipun amalan itu nampak dilakukan hanya sedikit tetapi berlangsung secara terus menerus. Allah SWT akan memberikan ganjaran pahala kepada hamba-hambanya atas amalan perbuatan yang bermanfaat bagi sesamanya.

Dalam Al Qur’an di surat Al Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. Dan dalam surat Al-Ahqaf ayat 14 Allah berfirman SWT : “Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan”.

Dalam hadist nabi yang diriwayatkan Bukhari – Muslim, Nabi SAW menyebutkan bahwa : “Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Selanjutnya Nabi SAW menyebutkan “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”.

Berbuat amal kebaikan merupakan sedekah buat diri kita. Ladang amal yang paling efektif  dan ganjaran pahalanya dinilai besar adalah menyambung tali silaturakhmi, saling mengingatkan dengan sesama insan untuk perbuatan kebaikan, dan memberikan pencerahan untuk meningkatkan pengetahuan, iman dan takwa di masjid, di mushala, di majlis dzikir, di majlis ilmu, di tempat-tempat pertemuan, dan atau di forum-forum silaturakhmi.