Senin, 27 Oktober 2014

Introspeksi Diri


Terkadang kita terlalu sombong, angkuh, arogan, tidak tahu malu, tidak tahu diri, merasa paling hebat, merasa tidak punya cacat, merasa terhormat, tinggi hati, dan merasa paling benar sendiri, apabila perilaku kita dikoreksi oleh seorang teman atau sahabat kita. Kita tidak pernah mau mengakui kesalahan yang kita perbuat terhadap orang lain atau kolega kita. Terlebih lagi kepada orang-orang yang berada dibawah kita atau orang-orang yang menjadi bawahan kita. Sikap dan tingkah laku kita itu seolah-olah benar adanya dan tidak pernah mengecewakan, menyakiti perasaan atau melukai hati orang lain. Padahal setiap hari tindak tanduk kita ini selalu mendapat perhatian dari sekeliling kita.

Karena memang kita merasa diatasnya, maka kita tidak pernah mau untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada orang-orang yang pernah kita sakiti perasaannya. Terkadang egoisme kitapun muncul dan suka menghardik, mencaci, dan memaki. Kemudian dengan pongahnya kita melempar uang puluhan ribu kepadanya dengan harapan ia dapat terbayar sakit hatinya.
Orang-orang seperti ini setiap harinya tidak pernah mengoreksi diri sendiri, tetapi ia selalu sibuk dengan urusan orang lain terutama orang-orang yang tidak ia sukai. Ia selalu berusaha mencari dan mengoreksi aib orang lain seolah-olah  dirinya bersih, jujur, dan menjadi orang yang saleh.

Dalam surat Al Hujarat ayat 12 disebutkan “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Selanjutnya dalam surat Al Ahzab ayat 58 disebutkan bahwa “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.

Agar kita menjadi orang yang selamat dalam kehidupan di dunia dan di akherat kelak, marilah kita selalu introspeksi diri kita. Kita bermuhasabah setiap waktu dan bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita jujur kepada diri sendiri, kepada isteri/suami, kepada teman/sahabat atau kepada orang lain. Janganlah kita suka mencari aib orang lain. Jangan suka membuka aib orang lain, apalagi aib istri atau suami kita sendiri kepada orang lain.

Diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasululah bersabda “Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain” (HR Al Bazzar).

Semogalah kita menjadi orang yang tidak suka menyakiti hati orang lain dengan mencari-cari kekurangan diri atau aibnya. Tetapi jadikanlah sikap dan perilaku kita yang menyenangkan hati orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar