Senin, 21 April 2014

Amalan Yang Sia-sia

Tidak semua perbuatan baik itu dapat dilakukan dengan ikhlas. Namun seyogyanyalah kita berupaya agar perbuatan baik yang kita lakukan itu bernilai ibadah. Janganlah amalan yang kita perbuat itu diikuti dengan perasaan riya walaupun hanya sepintas lalu saja. Karena dengan ke-ikhlas-an itu berarti kita telah melakukan suatu perbuatan yang insya Allah, Allah ridha, sehingga kita mendapat ganjaran pahala.

Kita akan tersanjung kalau kita dipuji orang, karena kita dianggap sebagai orang yang baik hati. Orang yang dermawan. Orang yang suka menolong kesusahan orang lain.  Orang yang suka memberi pinjaman kepada orang-orang yang memerlukan bantuan keuangan karena dihimpit oleh tekanan ekonomi.  Orang yang suka berderma bagi kemaslahatan umum. Orang yang suka berinfaq ke masjid atau mushala. Orang yang suka membantu membangun panti asuhan anak-anak yatim. Orang yang suka memberi pencerahan dakwah di masjid-masjid atau mushala-mushala. Atau orang yang suka berceramah di majlis-majlis taklim.

Karena pujiannya itu dimaklumkan didepan umum dan diketahui oleh orang banyak, maka ia merasa tersanjung dan bangga sebagai orang yang baik, sebagai orang yang suka membantu bagi sesama, sebagai kyai-da’I- ustad yang hebat karena dakwahnya yang sangat menyentuh hati dan menggugah semangat untuk ber-taqwa.

Mereka yang dipuji dengan sendirinya menjadi orang yang terhormat di dalam pandangan masyarakat dan lingkungannya.  Sehingga kalau mereka hadir di suatu acara pertemuan selalu merasa tersanjung. Atau disetiap acara pertemuan ia minta ditempatkan tempat duduk tertentu dan minta dihormati dengan cara mengulurkan tangannya agar dapat dicium.

Apalagi bila dalam suatu pertemuan itu ada pejabat penting yang hadir, dan ia berusaha untuk bertemu dan duduk disebelah kirinya. Kemudian berceritera ini dan itu seolah-olah ia sangat berperan dalam suatu peristiwa yang pernah terjadi. Atau sengaja menonjolkan program yang akan dilaksanakan padahal ia tidak berada dalam ruang lingkup kegiatan tersebut. Maka sikap seperti ini adalah sikapnya orang-orang munafik yang suka membuat kebohongan dengan memperalat orang lain agar ia dikatakan sebagai orang yang arif, bijaksana, penuh idea, dan menonjolkan diri agar dipuji. Mereka memakai topeng untuk kepentingan pribadinya belaka.

Kalaulah perbuatan seperti ini menjadikan kebanggaan dalam hatimu, menjadikan tujuan untuk menarik perhatian orang lain, maka banggamu itu akan menghapuskan semua amalmu yang telah kau tanam dihatimu.

Karenanya janganlah kita mengharap pujian dalam beramal, memamerkan kebaikan kepada semua orang, dan mengharapkan imbalan jasa atas apa yang telah kita perbuat kepada orang lain. Biarkanlah orang lain tidak mengetahui atas apa yang kita perbuat bagi sesama untuk kemaslahatan umum karena hanya semata-mata ingin mendapat ridha Allah,  sehingga amal perbuatan kita itu menjadi suatu investasi pahala yang kita tanam untuk masa depan kehidupan akherat kelak.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar