Jumat, 18 April 2014

Ber-Investasi Kebaikan Kepada Orang lain


Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan : Mumpung kita masih muda carilah uang sebanyak-banyaknya dan gunakanlah uang itu untuk keperluan selama hidup kita. Jangan pikirkan kehidupan orang lain nanti kita akan menjadi orang yang merugi. 

Raihlah kebahagiaan dengan uang, jabatan dan harta, kau akan bahagia.  

Lupakan orang-orang miskin yang suka mengemis kepada-mu, atau suka meminta-minta bantuan-mu. Lupakan yayasan yatim piatu dan dhuafa,  lupakan lembaga sosial, dan lembaga-lembaga lainnya yang suka mengatasnamakan pembangunan masjid, pembangunan madrasah, pembangunan sekolah, bantuan pendidikan, santunan orang-orang jompo dan kepanitia-kepanitiaan yang suka datang kepadamu. Karena semua itu akan mengurangi jumlah uang, harta dan kekayaan yang kita miliki.  

Untuk apa membantu mereka kalau kita tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari apa yang kita investasikan. Untuk apa kita berikan bantuan kepada mereka kalau akhirnya uang yang kita miliki akan berkurang.

Karena itu hendaknyalah kita harus menilainya dengan teliti dan seksama, serta menghitung-hitung  atas keuntungan dan kerugian yang kita lakukan dengan uang dan harta yang kita miliki kalau kita ingin ber-investasi kepada orang lain. 

Gambaran diatas adalah perhitungan bisnis kita. Itu menurut pandangan dan perhitungan kita, sehingga kita enggan untuk meng-infaq-an sebagian rejeki atau harta yang kita miliki untuk kebaikan di jalan Allah.
Padahal ada hadist nabi yang menyebutkan bahwa “Jika seseorang meninggal dunia, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga perkara;  shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orangtuannya”. ( HR. Muslim). Karena ke-egois-an kita, kesombongan kita, dan rasa keangkuhan kita terkadang kita tidak pernah memperhatikan arti hadist ini. Padahal hadist ini mestinya menjadi salah satu acuan dan pegangan bagi banyak orang dalam berinteraksi didalam pergaulan masyarakat. 

Kalau kebetulan kita berada di mall, di plaza, ditempat wisata, dihotel, di cottage atau ditempat-tempat hiburan, maka yang terbayang dipikiran kita adalah bagaimana agar semua orang dapat hidup seperti kita, dapat menikmati keindahan dunia dan gemerlapnya dunia. Betapa Indahnya malam di Las Vegas, betapa menariknya permainan Rodeo di Houston, betapa indahnya pemandangan alam Arizona, hutan finus di Yellow Stone, pemandangan gedung di Darling Habour Sydney, bersihnya pantai laut di Hawaii dan Guam, bersihnya kota Singapore. Betapa kita tidak melihat orang-orang miskin yang kesusahan di kota itu. Semua orang nampaknya kaya dan memiliki segalanya. Status yang kita sandang tentu sama dengan mereka “life and enjoy”. 

Kita akan terpanggil dan mengucapkan syukur kepada ilahy rabby kalau kita masuk keperkampungan muslim di India. Betapa trenyuhnya hati kita. Disepanjang jalan masuk ke daerah / pasar itu, nampak di kiri kanan jalan begitu banyaknya orang-orang yang susah, miskin yang minta perhatian kita. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mensyukuri nikmat Allah bahwasanya kita lebih baik dari mereka.  

Ditempat kita tinggalpun tidak kurang banyaknya orang-orang miskin dan dhuafa yang minta perhatian kita. Mereka hidup dalam kemiskinan dan kepapaan. Tidak bisa makan layaknya kita dan tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya karena ketidak mampuan untuk membayar sekolahnya. Disana di jalan-jalan raya bintaro, di sepanjang jalan jatinegara, di daerah-daerah kumuh sepanjang rel kereta api di senen, di jati Negara, di rajawali dan lain-lain tempat masih banyak yang tidur dengan beralasan koran dan berselimutkan langit. Kalau hujan mereka menangis karena tiada tempat berteduh atau tempat berlindung. Kitapun tidak dapat menutup mata bahwa masih banyak orang-orang yang susah disekitar lingkungan tempat tinggal kita walaupun mereka telah berusaha dengan bekerja keras  siang dan malam dalam meraih uang dan kebahagiaan, namun tidak atau belum tercapaikan. Padahal menurutnya ia telah berdo’a setiap malam diwaktu tahajud atau berdo’a diwaktu dhuha bahkan di setiap shalat. Tapi uang atau rejeki yang didambakan itu belum juga mendekat kepadanya / kita, apakah ada kesalahan bagi kita selama ini sehingga begitu susahnya mencari uang untuk kebagaiaan hidup kita bagi isteri dan anak-anak kita.

Orang-orang yang telah berhasil dan kaya mestinya harus selalu ingat bahwa harta kekayaan yang kita cari siang dan malam dengan membanting tulang, menyita waktu, tenaga dan pikiran bahkan sampai meninggalkan shalat, ternyata itu tidak mutlak kita miliki.  Semua itu hanyalah titipan Allah semata, termasuk diri kita ini. Jangan sampai kita terlena dan lupa untuk menyisihkan sebagian dari harta yang kita miliki karena kekayaan yang kita punyai itu ada sebagian kecil milik orang-orang miskin, anak-anak yatim piatu dan orang-orang dhuafa. Apabila kita menyadarinya dan menyisihkan sebagian dari rejeki yang kita miliki maka itu akan menjadi ladang amal sebagai
ibadah yang pahalanya akan mengalir terus-menerus sekalipun kita telah mati.

Kita tidak selamanya akan sehat, mungkin saja besok kita sakit, maka uang dan harta kekayaan yang kita cari itu akhirnya hanya untuk berobat, untuk biaya rumah sakit,  dan hanya untuk memelihara kesehatan kita saja.

Mumpung kita masih diberi sehat, dan masih diberi rejeki,  janganlah lupa kita berderma atau bersedekah berapapun yang kita kehendaki, asalkan ikhlas. Insya Allah infaqmu itu akan berbuah sebagai amal kebaikan yang di investasikan untuk hari kemudian bagi orang-orang yang memerlukan bantuan kita. Kita akan beroleh ganjaran pahala dan bertambahnya rejeki atas investasi yang kita berikan bagi sesama.”
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran (3):92).


 
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran (3):92).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar