Kamis, 17 April 2014

Jangan Terlena Dalam Mencari Kehidupan


Apa yang sudah kita miliki mungkin itu sudah menjadi rejeki kita. Atau apa yang telah kita putuskan untuk mendampingi hidup kita mungkin itu sudah menjadi jodoh kita. Terkadang kita kurang menyadari akan sesuatu apa yang tidak tercapai, mungkin saja itu bukan menjadi hak kita atau rejeki kita. Kita tidak perlu kecewa, galau, atau kita tangisi.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam hidup ini tidak ada satu hukum yang mengharuskan hidup seseorang itu harus sukses atau harus bahagia. Namun Allah telah menetapkan bahwa jangan lupakan kehidupan dunia dalam mencari kebahagiaan akherat. Nabi kitapun mengajarkan kepada kita agar kita selalu berdo’a untuk kebahagian dunia dan kebahagiaan akherat.

Tidak semua orang menyadari bahwa dibalik kehidupan dunia akan ada kehidupan akherat. Sehingga apapun caranya, bagaimanapun caranya, orang hanya berupaya mengejar kehidupan dunia walaupun dengan cara yang tidak halal sekalipun. Bahkan kalau perlu harus membunuh saingannya demi mencapai obsesinya. Namun hal ini sangat bertentangan dengan fitrah kehidupan manusia dan akan melanggar hak azasi manusia. Sementara itu ancaman Allah SWT sangat berat sekali yaitu neraka jahanam bila kita sampai membunuh orang lain atau seseorang, apalagi itu yang saingan kita.

Allah berfirman dalam surat Al-Qaşaş ayat 77 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dalam surat Al Hadid ayat 20 Allah SWT  menegaskan : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

 

Ayat-ayat di atas mengingatkan kepada kita bahwa kebahagiaan itu ada

2 (dua) yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akherat yang kedua-duanya harus kita kejar dalam posisi yang seimbang. Kehidupan dunia itu sifatnya hanya sementara dan tidak abadi. Yang kita kejar dalam menggapai kebahagian dunia itu hanyalah wanita yang cantik, anak-anak, harta kekayaan berupa emas, perak, berlian, platinum, rumah mewah yang besar dan luas, sawah, ladang, kebun, hutan, kendaraan yang mahal, uang, deposito, jabatan yang tinggi, penghormatan, pengagungan dan pujian. Selalu ingin sehat dan berumur panjang, tidak pernah sakit atau kekurangan, serta hidup dalam lingkungan yang glamor.

Sedangkan untuk kehidupan akherat banyak orang menganggap bahwa kehidupan akherat itu masih absurd dan hanya angan-angan belaka. Ini adalah pendapat orang-orang yang tidak mempercayai adanya kehidupan akherat sehingga hidupnya hanya untuk kehidupan dunia saja. Ia bekerja keras, membanting tulang siang dan malam, tidak mengenal waktu dan istirahat, bahkan berani untuk meninggalkan shalat yang merupakan kewajibannya kepada Tuhannya ditinggalkan, dan tujuan hidupnya hanyalah untuk mengejar kebahagiaan kehidupan dunia. Orang-orang yang melakukan kehidupan seperti ini adalah termasuk orang-orang yang merugi. Padahal kehidupan akherat itu tidak pernah mengenal batas waktu. Janganlah kita terpedaya atas bujukan para dai, kyai, ulama, dan para ustadz yang mengejar kehidupan dunia saja atau kehidupan akherat saja. Tapi hendaklah kita mengejar dan meraih kehidupan itu kedua-duanya secara seimbang, sehingga kita memperoleh kebahagian dunia dan kebahagiaan akherat sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita dengan do’a yang kita panjatkan setiap waktu setelah selesai menjalankan shalat yaitu :

“Allahumma rabbana aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka”.  (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690).

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar